Langsung ke konten utama

Maaf Sampai Hari Ini Aku Masih Menyusahkanmu


Ibu, beliaulah yang mengandungku selama kurang lebih sembilan bulan, beliaulah yang merawatku dengan penuh kesabaran hingga ku tumbuh dewasa seperti ini, dan ibulah yang memperhatikanku setiap waktunya. Ibu, dulu dikala rambutmu belum ada yang memutih, engkau dengan sabar merawatku, engkau yang tiap pagi dan tiap sore mamandikanku, engkau yang selalu memberi air susu kepadaku, engkau yang selalu tak membiarkanku kelaparan, engkau yang selalu menggantikan popokku dan engkau yang selalu menemani dengan kehangatanmu dikala dingannya malam menusuk tubuhku. Tapi dulu, aku hanya bisa menyusahkanmu, tiap malam tidurmu terbangun karena tangisanku, pekerjaanmu seringkali terganggu karena tingkah nakalku, dan waktumu banyak terbuang untuk merawatku. Maaf ibu aku hanya bisa menyusahkanmu. Lima tahun telah berlalu, dan selama itu pula aku setiap harinya menyusahkanmu. Tapi setelah lima tahun tersebut, tingkahku tak banyak berubah, hanya selalu menyusahkanmu. Lima tahun yang lalu rambutmu belum ada yang memutih, tapi lima tahun setelah itu aku melihat satu dua rambut dikepalamu kian lama kian memutih. Apakah itu tanda bahwa engkau telah letih dan lelah merawatku Bu? apakah engkau tak kan lagi memandikanku di pagi dan sore hari, apakah engkau akan membiarkanku kelaparan dan apakah engkau tak akan memberikan kasih sayangmu kepadaku lagi Bu? Salah sangka ku rupanya, beliau yang kala itu kulitnya terlihat semakin keriput terus saja memberikan perhatian terhadapku, memberikan apa saja yang aku minta kepada beliau tanpa mengharapkan imbalan dariku. Tak bosan beliau menegurku, tak bosen beliau meningatkanku, dan tak bosan beliau menyayangiku setiap waktu meskipun setiap harinya hanya goresan goresan luka di hati yang mungkin aku berikan kepada beliau. Bu, seberapa sering engkau menanggung malu di setiap perbuatanku? maaf ibu, aku masih saja menyusahkanmu. Suatu saat dikala umurku sudah menginjak 16 tahun, ibu yang saat itu juga terlihat semakin letih dan lelah, kulitnya yang semakin keriput, dan rambutnya yang sebagian sudah berubah menjadi putih, masih saja memberikan perhatiannya terhadapku. Meski umurku sudah mulai bertambah, tapi tingkah lakuku masih saja menyusahkan ibuku. Hingga suatu hari sebuah musibah menghampiri diriku dan aku tidak berani membicarakan hal ini kepada ibuku karena takut hanya akan menyusahkan beliau. Aku bersikap layaknya seorang ksatria, bersikap dan berperilaku seperti halnya seorang yang sedang dalam kondisi sehat saja. Dan saat itu pula, aku melihat satu tetes, dua tetes, dan tetesan tetesan air mata yang keluar dari mata ibuku karena tidak tega melihat keadaan tubuhku yang berlumpuran darah. Mengapa Ibu menangis? tanyaku dalam hati. Akan tetapi pagi harinya tak ada satupun bagian tubuhku yang bisa aku gerakkan, hanya kepala ini yang bisa aku gerakkan. Ku tengkok sebelah kananku dan ku lihat ada seorang wanita tuwa yang sedang mempersiapkan sarapan untukku, dan wanita tuwa itu adalah ibuku. Lalu kemudian beliau menghampiriku seraya berkata," engkau sudah bangun nak, mari kita bersihkan badanmu dulu!". Kemudian beliau membantuku berdiri dan mengusapkan kain basah untuk membersihkan badanku. "engkau lapar nak?", tanya ibuku sambil tersenyum kepadaku. Aku hanya bisa menganggukan kepalaku dan seketika itu pula ibu langsung menyuapiku. Maaf Ibu, aku masih saja menyusahkanmu. Tak bisa aku bayangkan ketika tak ada dirimu, siapa yang akan merawat dan memberikan perhatian yang semacam itu terhadapku. Namun, apa yang sudah saya berikan kepadamu Ibu? di usia senjamu yang hampir menginjak kepala lima itu, engkau masih saja terus menghabiskan waktumu untuk memberikan perhatian dan kasih sayang terhadapku. Entah nanti aku ataupun engkau dulu yang dipanggil oleh-Nya, hanya sebuah doa dan harapan yang aku panjatkan untukmu ibu, tak hanyak sekedar selalu ingin melihat senyummu di setiap bangun dan tidurku, tapi lebih lebih dari itu, kita bisa bertemu kembali lagi dikala kita sudah tidak di dunia lagi.
 Maaf Sampai Hari Ini Aku Masih Menyusahkanmu.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya dan Wakatobi

Tetiba teringat akan sebuah tempat indah di sebuah pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ya, Kaledupa pulau yang saya maksud. Pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan WaKaToBi merupakan sebuah pulau kecil yang untuk kesana saja memerlukan waktu yang tidak sebentar (bagi saya). WaKaToBi, Wanci Kaledupa Tomia Binongko begitulah kata orang-orang mengapa dinamakan kepulaun WaKaToBi. Di tempat inilah saya pernah menemukan banyak pengalaman dan ilmu yang sampai saat ini masih saya terapkan dalam kehidupan saya. Untuk memulai cerita saya tentang Wakatobi, terlebih dahulu saya harus memulainya dari Green Campus Sebelas Maret Univercity. Bahwa Universitas Sebelas Maret mempunyai salah satu mata kuliah yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana setiap mahasiswanya mulai dari angkatan 2011 wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 45 hari di sebuah tempat yang sudah ditentukan ataupun di sebuah tempat yang sudah di usulkan. Tibalah giliran saya seorang mahasiswa Pendidikan Fisika angkata...

Urung Biasa Nganggo Bahasa Indonesia

Jaman mbiyen, pas umurku sekitar 5 taun pas nyong esih TK , nyong kuwe jerene si bocahe nakal banget, padahal menurutku ya ora patia nakal lah, lumrahe lah ya nek cah cilik njaluke werna werna, di tokokna siji njaluke loro, ditokokna loro, njaluke 3, ditokokna telu njaluke 4, eh malah bareng ditokokna 10 malah ora gelem nampani. Lah wong sing jenengane cah cilik ya maklum lah ya, wis lumrahe. Kie tau nyong pas disengi meng pasar, jenenge pasar karangbolong, nang kono kuwe nyong weruh mobil-mobilan crash gear sing nang tv bisa metu kewane. Hla nyong njaluk malah ora dituruti, mergane dina kuwe nyong wis tuku mobil-mobilan crash gear ana 3. Ya wis lah ya, sing jenengane cah cilik ngertine ya mung nangis, ya wis nyong nagis bae, mbok mbok ditokokna maning kaya sedurung durunge nek nangis. Eh jebule malah ditokokna maning. Sangar mbok? nangis kuwe senjata ampuh. Nah, enteni bae ya crita ciliku mbiyen, kie masalahe ceritane anu to be continued :D

Kawanku, Bahagiamu juga Bahagiaku

Kawanku, ku bangga bisa mengenalmu. Sebuah anugerah kita sempat dipertemukan dalam lingkungan yang sama. Senyummu senyumku senyum kita semua akan selalu terekam dalam memory ingatanku. Ketika bagaimana kamu bilang balung kepadaku, ketika bagaimana kamu sering nyubit dan mukulin aku, ketika bagaimana kamu sering ngledekin aku, ketika bagaimana kamu sering bilang cingcong kepadaku, dan ketika bagaimana kamu membuatku tertawa disetiap waktuku. Kawan, masih inginkah kamu menjadi penanggungjawab mata kuliah Bahasa Inggris 2 ? Ataukah sebenarnya ingin tetap menjadi bendahara? Maafkan aku kawan ketika memang aku ini belum bisa menjadi kawan baikmu, belum bisa menjadi ketua kelas yang bisa mengayomimu serta teman temanmu. Satu hal yang membuatku bahagia ketika kamu berhasil diterima di STAN, satu hal yang juga membuatku tak menginginkan kamu pergi dari pendidikan fisika setelah Tiara Nur Khanifa, Ardianto, Titis ,dan sekarang kamu. Tak sabar ketika nanti kita bisa dipertemukan kembali dalam...