"Simbah" mungkin itulah yang saat ini terngiang dalam benak dan pikiranku. "Simbah" kehadiranku di kehidupanmu semoga tak memberatkan segala beban hidupmu, semoga pertemuan kita yang singkat ini memberimu sedikit arti kebahagiaan memiliki seorang cucu. "Simbah" belum terhitung lama ketika engkau pergi meninggalkanku dan semua kenangan kita untuk bertemu dengan Rabb mu tapi hati ini sudah berkata rindu untuk berjumpa lagi denganmu "Simbah". "Simbah" meskipun seringkali tutur kata dan tingkah lakuku yang membuatmu tak kuasa menahan semua amarah dan emosimu, tapi aku ingin engkau tau bahwa cucumu saat ini sangat merindukanmu, menginginkan kita bisa bersenda gurau lagi seperti kala itu dan menghabiskan masa masa kecilku bersamamu. "Simbah" jikalau engkau mau datang dalam mimpiku malam ini, maka tak kan ku sia siakan waktu itu untuk ku habiskan bersamamu. Teringat ketika satu tahun yang lalu engkau sudah cukup dibuat sedih...
Beberapa waktu yang lalu aku melihat pria itu lagi, seorang pria dengan muka galak dan menakutkanku itu mulai mengatakan sesuatu kepadaku dengan nada-nada tingginya seakan penuh dengan amarah menyelimuti dirinya. Aku pun mulai bertanya-tanya kepada diri sendiri tentang apa yang akan dikatakan lelaki galak itu kepadaku. Perlahan lelaki itu mendekatiku sembari bertanya,"bagaimana kabarmu nak?". Ya, lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah ayahku. Beliau adalah sosok seseorang bermuka galak yang sangat aku hormati. Sedari kecil, beliaulah yang selalu memperjuangkan apapun semua kebutuhan dan keinginanku, tak ingat waktu, tak ingat kondisi, beliau tetap bekerja keras hanya demi seorang bocah yang sampai saat ini belum bisa memberikan apa pun kepada beliau selain rasa malu kepada keluarga. Ayah, aku tau engkau tak semuda dulu, aku tau tulang-tulang yang dulu kuat untuk berjalan dan memikul beban apapun sekarang sudah mulai terasa sakit karena kerja kerasmu. Ayah, masih ing...