Beberapa waktu yang lalu aku melihat pria itu lagi, seorang pria dengan muka galak dan menakutkanku itu mulai mengatakan sesuatu kepadaku dengan nada-nada tingginya seakan penuh dengan amarah menyelimuti dirinya. Aku pun mulai bertanya-tanya kepada diri sendiri tentang apa yang akan dikatakan lelaki galak itu kepadaku. Perlahan lelaki itu mendekatiku sembari bertanya,"bagaimana kabarmu nak?". Ya, lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah ayahku. Beliau adalah sosok seseorang bermuka galak yang sangat aku hormati. Sedari kecil, beliaulah yang selalu memperjuangkan apapun semua kebutuhan dan keinginanku, tak ingat waktu, tak ingat kondisi, beliau tetap bekerja keras hanya demi seorang bocah yang sampai saat ini belum bisa memberikan apa pun kepada beliau selain rasa malu kepada keluarga. Ayah, aku tau engkau tak semuda dulu, aku tau tulang-tulang yang dulu kuat untuk berjalan dan memikul beban apapun sekarang sudah mulai terasa sakit karena kerja kerasmu. Ayah, masih ing...