Langsung ke konten utama

Saya dan Wakatobi



Tetiba teringat akan sebuah tempat indah di sebuah pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ya, Kaledupa pulau yang saya maksud. Pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan WaKaToBi merupakan sebuah pulau kecil yang untuk kesana saja memerlukan waktu yang tidak sebentar (bagi saya). WaKaToBi, Wanci Kaledupa Tomia Binongko begitulah kata orang-orang mengapa dinamakan kepulaun WaKaToBi. Di tempat inilah saya pernah menemukan banyak pengalaman dan ilmu yang sampai saat ini masih saya terapkan dalam kehidupan saya.
Untuk memulai cerita saya tentang Wakatobi, terlebih dahulu saya harus memulainya dari Green Campus Sebelas Maret Univercity. Bahwa Universitas Sebelas Maret mempunyai salah satu mata kuliah yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana setiap mahasiswanya mulai dari angkatan 2011 wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 45 hari di sebuah tempat yang sudah ditentukan ataupun di sebuah tempat yang sudah di usulkan. Tibalah giliran saya seorang mahasiswa Pendidikan Fisika angkatan 2012 untuk mengikuti program tersebut. Kaledupa, sebuah tempat yang saya tuju bersama 14 partner tim saya yang lainnya untuk melaksanakan kegiatan KKN tersebut.
Perjalanan pun kami mulai dari sore itu menggunakan kereta Pasundan dari Stasiun Purwosari  (Solo) menuju Stasiun Gubeng (Surabaya) selama kurang lebih 4 jam perjalanan. Sesampainya di Surabaya ternyata waktu sudah malam hari. Banyak sekali barang bawaan kami baik itu barang bawaan pribadi ataupun barang bawaan kelompok. Kami harus menunggu sampai pagi hari di Stasiun Gubeng karena tiket keberangkatan pesawat kami yakni jam 9 pagi. Ini adalah pengalaman pertama saya merasakan tidur di stasiun. Kemudian pagi hari pun tiba yang mengharuskan kami harus bergegas menuju Bandara Juanda (Surabaya) untuk segera take of menuju Kendari. Lagi lagi inilah pertama kalinya saya naik pesawat terbang, sedikit takut tetapi memang sangat mengasyikan. Alhamdulillah, tidak butuh waktu lebih dari tiga jam untuk kami sampai di Bandara Kendari (lupa nama bandaranya). Dan di Kendari pun kami juga harus transit dan menunggu keesokan harinya untuk menyeberang ke Wanci dimana disitulah terdapat pusat pemerintahan Wakatobi.
Keesokan harinya pun tiba sehingga kami harus bergegas berlayar menyeberangi laut Sulawesi menggunakan kapal dengan total perjalanan kurang lebih 10 jam perjalanan. Sesampainya di Wanci tenyata waktu sudah menunjukan malam hari dan kami harus segera masuk ke dalam penginapan yang sudah disediakan oleh Pemerintah Wakatobi untuk kami sekedar beristirahat disitu hingga pagi hari berikutnya. Pagi haripun tiba, kami harus segera berkemas untuk kemudian melaksanakan penerimaan Mahasiswa KKN oleh Pemerintah Wakatobi untuk kemudian lagi lagi kita harus menyeberangi lautan selama kurang lebih 2 jam untul sampai di tempat yang sudah kita tuju.
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan selama kurang lebih empat hari  hingga sampailah kita di sebuah pulau yang tak begitu luas bernama Pulau Kaledupa. Kami sudah ditunggu oleh Kepala Desa Ambeua dimana di desa itulah kami selam kurang lebih 45 hari ke dapan hendak mengabdikan diri. Terheran karena tempat itu begitu asing bagi kami, tempat yang sebelumnya belum pernah kita singgahi dan itu artinya kita semua harus mulai menyesuaikan diri terhadap masyarakat sekitar baik itu masalah kepercayaan maupun adat istiadat. Setelah semua barang bawaan kami dirurunkan dari kapal dan kemudian satu per satu barang bawaan kami di angkut menggunakan mobil bak untuk kemudian dibawa ke sebuah rumah yang nantinya rumah itu juga akan menjadi tempat tinggal (posko KKN) selama kami berada di Desa Ambeua, kami pun di ajak berkunjung terlebih dahulu ke kediaman Bapak Camat setempat sebelum akhirnya kita menuju ke posko KKN.
Mamih Ike, begitulah kami memanggil seorang ibu paruh baya tersebut. Mamih Ike inilah yang akan menjadi ibu (sementara) kami selama kami berada di Ambeua. Beliau orang yang sangat ramah dan sangat tegas akan tetapi beliau sangat mengayomi kami seperti layaknya anak beliau sendiri.
Hari demi hari telah kami lewati selama kita berada di Ambeua. Banyak hal dan pelajaran yang kami dapatkan disana, entah itu hal yang menyenangkan, menyedihkan ataupun hal yang begitu emosional. Mulai dari setelah subuh harus segera bergegas ke pasar pagi hanya demi untuk mendapatkan sayur dan bumbu dapur, berjalan kaki sejauh beberapa kilometer untuk sekedar berbagi dan mengajar, tidak bisa merayakan idul fitri bersama keluarga besar, hingga hal yang berujung salah paham. Tapi itu semua tidak menjadi persoalan berarti bagi kami, karena disana kami mempunyai keluarga kecil (keluarga sayur kami menyebutnya) yang sedikit bisa mengobati rasa rindu kami terhadap kampung halaman kami.
Hingga tiba pada suatu hari, salah satu dari kami meminta ijin untuk kembali ke jawa lebih dulu. Ya, saya adalah orang yang ketika itu meminta ijin pulang lebih dulu dan mengundurkan diri dari keluarga sayur tersebut. Mungkin banyak orang  bertanya mengapa saya melakukan hal tersebut ketika hanya kurang sekitar 10 hari kami harus bertahan lebih lama lagi disana, dan mungkin juga banyak orang yang menganggap bahwa saya ini orang yang sangat bodoh atau sangat ceroboh, atau mungkin juga banyak juga orang yang membenci saya ataupun orang orang di sekitar saya karena kecerobohan saya tersebut. Tetapi, ketika saya meminta ijin untuk pulang lebih awal dan mengundurkan diri dari peserta KKN periode tersebut saya sudah meminta ijin kepada kedua Orang Tua, kepada mamih Ike, kepada Kepala Desa Ambeua, kepada Dosen Pembimbing Lapangan, bahkan langsung kepada Pak Rahayu selaku Ketua UP KKN UNS. Oleh karena itu sudah menjadi keputusan saya maka mau tidak mau saya harus bersedia menanggung resikonya jikalau saya harus mengulang KKN lagi untuk periode selanjutnya.
Itulah keputusan saya, bukan tanpa sebuah alasan dan pertimbangan hingga saya berani memutuskan hal tersebut. Tidak hanya satu alasan yang mebuat saya mengharuskan pulang terlebih dahulu, tidak sekali dua kali saya mempertimbangkan keputusan saya tersebut. Pertama, karena ketika saya berada di Kaledupa sementara kondisinya ibu saya sedang jatuh sakit di kampung halaman sana. Kedua, banyak ketidakcocokan saya dengan tim KKN ini, mulai dari kepribadian maupun cara kerjanya. Pernah  disana saya merasakan harus tidur di teras rumah menggunakan sarung karena ketika itu sudah lewat tengah malam ada seorang cewek dan cowok yang bukan pasangannya sedang asik mengobrol di tempat tidur anak laki laki yang ketika itu berada di ruang tamu dan itu menurut saya mengganggu, parahnya lagi tidak hanya sekedar mengobrol akan tetapi saling pijat pijatan tangan yang posisinya sudah hampir pukul 01.00 dini hari, dan masih banyak lagialasan dan pertimbangan mengapa saya pada akhirnya memutuskan untuk pulang lebih awal.
Terlepas dari semua itu saya mengucapkan terimakasih kepada keluarga sayur karena kalian telah mengajak saya ke sebuah tempat yang jauh disana tapi sampai sekarang sangat saya merindukan. Afif, Slamet, Gilang, Billy, Fendy, Fikri, Erik, Testian, Anisa, Haniah, Yanis, Ichang, Monica, dan Eno terimakasih karena telah memberikan saya kesempatan menjadi bagian dari keluarga sayur. Masih banyak yang belum saya ceritakan disini tapi paling tidak ini adalah sedikit cerita tentang Saya dan Wakatobi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Urung Biasa Nganggo Bahasa Indonesia

Jaman mbiyen, pas umurku sekitar 5 taun pas nyong esih TK , nyong kuwe jerene si bocahe nakal banget, padahal menurutku ya ora patia nakal lah, lumrahe lah ya nek cah cilik njaluke werna werna, di tokokna siji njaluke loro, ditokokna loro, njaluke 3, ditokokna telu njaluke 4, eh malah bareng ditokokna 10 malah ora gelem nampani. Lah wong sing jenengane cah cilik ya maklum lah ya, wis lumrahe. Kie tau nyong pas disengi meng pasar, jenenge pasar karangbolong, nang kono kuwe nyong weruh mobil-mobilan crash gear sing nang tv bisa metu kewane. Hla nyong njaluk malah ora dituruti, mergane dina kuwe nyong wis tuku mobil-mobilan crash gear ana 3. Ya wis lah ya, sing jenengane cah cilik ngertine ya mung nangis, ya wis nyong nagis bae, mbok mbok ditokokna maning kaya sedurung durunge nek nangis. Eh jebule malah ditokokna maning. Sangar mbok? nangis kuwe senjata ampuh. Nah, enteni bae ya crita ciliku mbiyen, kie masalahe ceritane anu to be continued :D

Kawanku, Bahagiamu juga Bahagiaku

Kawanku, ku bangga bisa mengenalmu. Sebuah anugerah kita sempat dipertemukan dalam lingkungan yang sama. Senyummu senyumku senyum kita semua akan selalu terekam dalam memory ingatanku. Ketika bagaimana kamu bilang balung kepadaku, ketika bagaimana kamu sering nyubit dan mukulin aku, ketika bagaimana kamu sering ngledekin aku, ketika bagaimana kamu sering bilang cingcong kepadaku, dan ketika bagaimana kamu membuatku tertawa disetiap waktuku. Kawan, masih inginkah kamu menjadi penanggungjawab mata kuliah Bahasa Inggris 2 ? Ataukah sebenarnya ingin tetap menjadi bendahara? Maafkan aku kawan ketika memang aku ini belum bisa menjadi kawan baikmu, belum bisa menjadi ketua kelas yang bisa mengayomimu serta teman temanmu. Satu hal yang membuatku bahagia ketika kamu berhasil diterima di STAN, satu hal yang juga membuatku tak menginginkan kamu pergi dari pendidikan fisika setelah Tiara Nur Khanifa, Ardianto, Titis ,dan sekarang kamu. Tak sabar ketika nanti kita bisa dipertemukan kembali dalam...