Langsung ke konten utama

Selamat Hari Ibu Wahai Ibundaku


Selamat Hari Ibu untuk ibukku yang sejauh ini dengan ketulusan dan penuh kesabaran telah memberikan limpahan kasih yang tak ternilai besarnya, maaf sampai saat ini aku masih saja menyusahkanmu, Buk.
Buk, usiamu kini telah menginjak kepala lima,  engkau yang dahulu selalu ku andalkan, kini timbul sebuah keraguan, engkau yang dulu terlihat kuat, sekarang terlihat memucat. Buk....mengapa engkau selalu saja ingin terlihat kuat di depan anak-anakmu? mengapa engkau selalu saja menyembunyikan lelah yang engkau rasakan di depan anak-anakmu? mengapa buk? mengapa engkau tidak pernah menunjukkan semua itu kepadaku? sedangkan aku tau, engkau menanggung beban yang teramat berat atas semua tingkahku. Apakah ini yang dinamakan sebuah ketulusan hati seorang ibu? Buk, jikalau engkau lelah denganku, katakanlah buk, jikalau engkau bosan dengan semua bosan dengan tingkahku bersabarlah buk dan jikalau engkau tak menginginkan maka sampaikanlah kepadaku buk. Tapi mengapa sedikitpun aku tak melihat itu darimu, bahkan yang aku lihat adalah sebuah kasih sayang dengan segenap ketulusanmu kepadaku, buk. Apakah aku yang memang tak mau tau atas apa yang engkau lakukan, atas apa yang engkau berikan dan atas semua yang engkau lakukan untukku dan untuk semua anak anakmu. Sebegitu tak pedulikah aku kepadamu dan semua yang engkau lakukan untuk anak anakmu, buk? Maafkan kami buk, hanya goresan goresan luka yang seringkali kami berikan untukmu ketimbang sebuah kebahagiaan untuk sekedar membuatmu tersenyum.
Buk, maafkan kami yang belum bisa memberikan sesuatu yang berarti untukmu. Hanya sebuah rangkaian kata yang aku buat untukmu. Hanya sebuah kalimat yang aku buat, sebagai tanda kasihku kepadamu buk.
"Buk, apapun kesalahan yang kami lakukan, maafkanlah kami. Kami sadar bahwa apa yang kami lakukan masih sangat jauh dari apa yang engkau harapkan, apa yang kami lalukan masih sangat jauh dari apa yang engkau cita citakan. Terlebih aku, buk. Hanya banyak beban yang selama ini aku berikan kepadamu ketimbang sebuah bantuan untuk meringankan beban hidupmu, buk. Maafkan aku buk, karena sampai saat ini aku masih saja menyusahkanmu. Terimakasih buk atas semua yang engkau lakukan dan engkau berikan selama ini untukku, tak kan pernah bisa terbalas segala kebaikan dan ketulusan hatimu yang selama ini merawatku, tak kan pernah bisa terbalas segala kebaikan dan ketulusan hatimu yang selama ini membesarkanku, dan tak kan pernah bisa terbalas segala kebaikan dan ketulusan hatimu yang selama ini membersamaiku, terimaksih buk, terimakasih banyak untuk selama ini. Maaf aku masih saja menyusahkanmu".
Terimakasih atas semua yang engkau berikan untukku, buk :)
Tak kan pernah bisa terbalaskans semua jasa jasamu selama ini :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya dan Wakatobi

Tetiba teringat akan sebuah tempat indah di sebuah pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ya, Kaledupa pulau yang saya maksud. Pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan WaKaToBi merupakan sebuah pulau kecil yang untuk kesana saja memerlukan waktu yang tidak sebentar (bagi saya). WaKaToBi, Wanci Kaledupa Tomia Binongko begitulah kata orang-orang mengapa dinamakan kepulaun WaKaToBi. Di tempat inilah saya pernah menemukan banyak pengalaman dan ilmu yang sampai saat ini masih saya terapkan dalam kehidupan saya. Untuk memulai cerita saya tentang Wakatobi, terlebih dahulu saya harus memulainya dari Green Campus Sebelas Maret Univercity. Bahwa Universitas Sebelas Maret mempunyai salah satu mata kuliah yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana setiap mahasiswanya mulai dari angkatan 2011 wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 45 hari di sebuah tempat yang sudah ditentukan ataupun di sebuah tempat yang sudah di usulkan. Tibalah giliran saya seorang mahasiswa Pendidikan Fisika angkata...

Urung Biasa Nganggo Bahasa Indonesia

Jaman mbiyen, pas umurku sekitar 5 taun pas nyong esih TK , nyong kuwe jerene si bocahe nakal banget, padahal menurutku ya ora patia nakal lah, lumrahe lah ya nek cah cilik njaluke werna werna, di tokokna siji njaluke loro, ditokokna loro, njaluke 3, ditokokna telu njaluke 4, eh malah bareng ditokokna 10 malah ora gelem nampani. Lah wong sing jenengane cah cilik ya maklum lah ya, wis lumrahe. Kie tau nyong pas disengi meng pasar, jenenge pasar karangbolong, nang kono kuwe nyong weruh mobil-mobilan crash gear sing nang tv bisa metu kewane. Hla nyong njaluk malah ora dituruti, mergane dina kuwe nyong wis tuku mobil-mobilan crash gear ana 3. Ya wis lah ya, sing jenengane cah cilik ngertine ya mung nangis, ya wis nyong nagis bae, mbok mbok ditokokna maning kaya sedurung durunge nek nangis. Eh jebule malah ditokokna maning. Sangar mbok? nangis kuwe senjata ampuh. Nah, enteni bae ya crita ciliku mbiyen, kie masalahe ceritane anu to be continued :D

Kawanku, Bahagiamu juga Bahagiaku

Kawanku, ku bangga bisa mengenalmu. Sebuah anugerah kita sempat dipertemukan dalam lingkungan yang sama. Senyummu senyumku senyum kita semua akan selalu terekam dalam memory ingatanku. Ketika bagaimana kamu bilang balung kepadaku, ketika bagaimana kamu sering nyubit dan mukulin aku, ketika bagaimana kamu sering ngledekin aku, ketika bagaimana kamu sering bilang cingcong kepadaku, dan ketika bagaimana kamu membuatku tertawa disetiap waktuku. Kawan, masih inginkah kamu menjadi penanggungjawab mata kuliah Bahasa Inggris 2 ? Ataukah sebenarnya ingin tetap menjadi bendahara? Maafkan aku kawan ketika memang aku ini belum bisa menjadi kawan baikmu, belum bisa menjadi ketua kelas yang bisa mengayomimu serta teman temanmu. Satu hal yang membuatku bahagia ketika kamu berhasil diterima di STAN, satu hal yang juga membuatku tak menginginkan kamu pergi dari pendidikan fisika setelah Tiara Nur Khanifa, Ardianto, Titis ,dan sekarang kamu. Tak sabar ketika nanti kita bisa dipertemukan kembali dalam...