Beberapa waktu yang lalu aku melihat pria itu lagi, seorang pria dengan muka galak dan menakutkanku itu mulai mengatakan sesuatu kepadaku dengan nada-nada tingginya seakan penuh dengan amarah menyelimuti dirinya. Aku pun mulai bertanya-tanya kepada diri sendiri tentang apa yang akan dikatakan lelaki galak itu kepadaku. Perlahan lelaki itu mendekatiku sembari bertanya,"bagaimana kabarmu nak?". Ya, lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah ayahku. Beliau adalah sosok seseorang bermuka galak yang sangat aku hormati.
Sedari kecil, beliaulah yang selalu memperjuangkan apapun semua kebutuhan dan keinginanku, tak ingat waktu, tak ingat kondisi, beliau tetap bekerja keras hanya demi seorang bocah yang sampai saat ini belum bisa memberikan apa pun kepada beliau selain rasa malu kepada keluarga. Ayah, aku tau engkau tak semuda dulu, aku tau tulang-tulang yang dulu kuat untuk berjalan dan memikul beban apapun sekarang sudah mulai terasa sakit karena kerja kerasmu. Ayah, masih ingatku saat waktu itu engkau selalu membelikanku mainan ketika engkau mengajakku pergi ke pasar, masih ingatku ketika engkau tidak bisa melihatku menangis ketika aku menginginkan sesuatu, masih ingatku engkau yang waktu itu sering kali tidak bisa beristirahat dengan cukup dan tidur dengan nyanyak karena semua tingkat nakalku, masih ingatku ketika engkau selalu memarahiku ketika aku pergi bermain tak ingat waktu, dan masih ingatku akan semua masa-masa indahku bersamamu yang pasti akan berakhir ini.
Ayah, kala itu engkau terjatuh sakit hingga akhirnya engkau dirawat di rumah sakit. Masih ingatkah engkau ketika waktu itu ayah? Ketika waktu itu aku mumutuskan untuk tidak berangkat sekolah hanya untuk menggumu yang sedang terbaring di rumah sakit dan kemudian engkau memarahiku sembari berkata,"kamu tidak boleh bolos sekolah, kamu harus berangkat sekolah karena ayah ingin kamu menjadi anak yang pintar dan menjadi kebanggaan keluarga, karena ayah menginginkan kamu menjadi orang sukses dan bukan seperti ayahmu ini yang hanya lulusan sekolah dasar yang berpenghasilan pas pasan sebagai seorang petani ".
Selang beberapa waktu kemudian, aku pun atas dorongan dari ayahku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku ke sebuah perguruan tinggi negeri di Jawa Tengah, karena aku berpikir ini adalah salah satu cara untuk membuatmu bangga kepadaku ayah, seorang anak petani dan berpenghasilan pas pasan mampu menjadi seoarang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri terbaik yang ada di Indonesia. Ayah, ini adalah kado untukmu karena selama ini telah bersabar merawatku.
Beberapa waktu setelah itu, ayah kembali jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit untuk kesekian kalinya. "Apa yang harus aku lakukan?" tanyaku dalam hati. Kemudian aku memutuskan untuk berbicara kepada ayahku,"Ayah, sudah cukup sampai disini saja sekolahku, karena aku tidak ingin melihatmu susah lebih dari ini ayah, karena aku tidak mau lagi membuatmu memikirkan semua pendidikanku yang aku tau itu hanya menjadi bebanmu". Untuk kesekian kalinya beliau memarahiku dengan nada tinggi dan muka galaknya,"Ayah tidak ingin pendidikanmu berhenti sampai disini, kamu harus berangkat tetap melanjutkan pendidikanmu apapun yang terjadi karena ayah ingin kamu menjadi anak yang pintar dan menjadi kebanggaan keluarga, karena ayah menginginkan kamu menjadi orang sukses dan bukan seperti ayahmu ini yang hanya lulusan sekolah dasar yang berpenghasilan pas pasan sebagai seorang petani, semua ini ayah lakukan bukan semata-mata ayah meminta balasan atas apa yang sudah ayah lakukan selama ini untuk kamu, tapi ayah melakukan ini karena ayah selalu menyayangimu dan menginginkan yang terbaik buat kamu, kerena semua ini ayah lakukan bukan untuk ayah tapi untuk masa depanmu dan bukan untuk masa depan ayah".
Terimakasih ayah, karenamu aku menjadi seperti sekarang ini. Meskipun belum ada yang bisa aku berikan untukmu sampai saat ini selain semua beban hidupku yang selama ini engkau tanggung. Ayah, jikalau suatu saat nanti engkau membaca ini ketahuilah bahwa saat aku dilahirkan ke dunia ini, maka saat itu pula aku mulai menyanyangimu. Terimakasih ayah karena telah mendidikku hingga saat ini, karena jasamu aku bisa seperti ini. Ayah, terimakasih untuk semuanya, berjanjilah padaku engkau akan selalu sehat dan selalu menjadi sosok terbaik bersama ibu di dalam hidupku. Ayah, bersabarlah ayah untuk sebuah perjuangan yang selama ini engkau lakukan untukku, bersabarlah ayah karena anakmu sedang memperjuangkan toganya untukmu. Janjiku padamu saat itu ketika suatu saat nanti kita dipersatukan dalam satu bingkai foto untuk sebuah pecapaian atas jerih payahmu pasti akan aku tepati ayah. Jika dulu engkau mengatakan bahwa semua yang engkau lakukan untukku, aku pun akan melakukan sebaliknya bahwa semua yang aku lakukan untukmu ayah, membahagiakanmu atas semua jerih payah dan kerja kerasmu. Ayah, tolong jaga selalu ibu di rumah ayah, tunggu sampai anakmu ini kembali dan membuatmu bangga jika anak seoarang petani bisa menjadi seorang sarjana, karena inilah salah satu bentuk baktiku untukmu ayah. Aku menyayangimu selalu, ayah.

Komentar
Posting Komentar