Pendidikan merupakan permasalahan klasik negeri ini yang sampai saat ini masih belum saja bisa terselesaikan. Anggaran dari pemerintah untuk memajukan pendidikan di negeri ini pun selalu dinantikan dan senantiasa diharapkan oleh putra putri bangsa yang hidup dalam keterbelakangan. Mereka ingin mengenyam dan mendapatkan pendidikan seperti halnya yang dirasakan oleh orang lain yang mampu dengan mudah menyekolahkan anak-anaknya. Kebijakan pemerintahpun dibuat, akan tetapi timbul sebuah pertanyaan, kebijakan yang dibuat tersebut bersumber dari kepentingan pribadi ataukah bersumber pada sebuah kepedulian untuk pendidikan negeri ini. ketika sebuah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah didasarkan pada sebuah kepedulian untuk memperbaiki pendidikan di negeri ini, tentulah saja pendidikan yang berada dalam level memperihatinkan ini akan semakin membaik, tapi lain halnya ketika sebuah kebijakan yang dibuat pemerintah hanya didasarkan pada kepentingan pribadi, pastilah pendidikan di negeri ini semakin tidak karuan dan akan tidak terselamatkan. Memang inilah realita yang ada di negeri ini, ketika sebuah pengharapan yang dinantikan, dibalas dengan sebuah kebijakan yang merugikan. Ini celah bagi mereka para petinggi bangsa ini yang tidak peduli dengan pendidikan di negeri ini yang semakin lama semakin menggerogoti devisa negara. Lalu apakah mereka juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh anak bangsa yang senantiasa mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk sebuah pendidikan yang pantas mereka kenyam. Entahlah, semua problem yang ada saat ini sulit untuk didapatkan jalan keluar. Bukan ingin menyalahkan pemerintah, tapi karena semua kebijakan , pusat dari segala peraturan tentang pendidiikan di negeri ini. Bukan tugas pemerintah saja yang memang menentukan keberhasilan dari pendidikan di negeri ini, akan tetapi tugas mereka dan tugas kitalah rakyat Indonesia yang memang dituntut untuk memajukan bangsa dan negara ini melalui pendidikan yang membangun karakter dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Tetiba teringat akan sebuah tempat indah di sebuah pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ya, Kaledupa pulau yang saya maksud. Pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan WaKaToBi merupakan sebuah pulau kecil yang untuk kesana saja memerlukan waktu yang tidak sebentar (bagi saya). WaKaToBi, Wanci Kaledupa Tomia Binongko begitulah kata orang-orang mengapa dinamakan kepulaun WaKaToBi. Di tempat inilah saya pernah menemukan banyak pengalaman dan ilmu yang sampai saat ini masih saya terapkan dalam kehidupan saya. Untuk memulai cerita saya tentang Wakatobi, terlebih dahulu saya harus memulainya dari Green Campus Sebelas Maret Univercity. Bahwa Universitas Sebelas Maret mempunyai salah satu mata kuliah yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana setiap mahasiswanya mulai dari angkatan 2011 wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 45 hari di sebuah tempat yang sudah ditentukan ataupun di sebuah tempat yang sudah di usulkan. Tibalah giliran saya seorang mahasiswa Pendidikan Fisika angkata...

Komentar
Posting Komentar