Pendidikan merupakan permasalahan klasik negeri ini yang sampai saat ini masih belum saja bisa terselesaikan. Anggaran dari pemerintah untuk memajukan pendidikan di negeri ini pun selalu dinantikan dan senantiasa diharapkan oleh putra putri bangsa yang hidup dalam keterbelakangan. Mereka ingin mengenyam dan mendapatkan pendidikan seperti halnya yang dirasakan oleh orang lain yang mampu dengan mudah menyekolahkan anak-anaknya. Kebijakan pemerintahpun dibuat, akan tetapi timbul sebuah pertanyaan, kebijakan yang dibuat tersebut bersumber dari kepentingan pribadi ataukah bersumber pada sebuah kepedulian untuk pendidikan negeri ini. ketika sebuah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah didasarkan pada sebuah kepedulian untuk memperbaiki pendidikan di negeri ini, tentulah saja pendidikan yang berada dalam level memperihatinkan ini akan semakin membaik, tapi lain halnya ketika sebuah kebijakan yang dibuat pemerintah hanya didasarkan pada kepentingan pribadi, pastilah pendidikan di negeri ini semakin tidak karuan dan akan tidak terselamatkan. Memang inilah realita yang ada di negeri ini, ketika sebuah pengharapan yang dinantikan, dibalas dengan sebuah kebijakan yang merugikan. Ini celah bagi mereka para petinggi bangsa ini yang tidak peduli dengan pendidikan di negeri ini yang semakin lama semakin menggerogoti devisa negara. Lalu apakah mereka juga bisa merasakan apa yang dirasakan oleh anak bangsa yang senantiasa mengharapkan bantuan dari pemerintah untuk sebuah pendidikan yang pantas mereka kenyam. Entahlah, semua problem yang ada saat ini sulit untuk didapatkan jalan keluar. Bukan ingin menyalahkan pemerintah, tapi karena semua kebijakan , pusat dari segala peraturan tentang pendidiikan di negeri ini. Bukan tugas pemerintah saja yang memang menentukan keberhasilan dari pendidikan di negeri ini, akan tetapi tugas mereka dan tugas kitalah rakyat Indonesia yang memang dituntut untuk memajukan bangsa dan negara ini melalui pendidikan yang membangun karakter dan mencerdaskan kehidupan bangsa.
Kawanku, ku bangga bisa mengenalmu. Sebuah anugerah kita sempat dipertemukan dalam lingkungan yang sama. Senyummu senyumku senyum kita semua akan selalu terekam dalam memory ingatanku. Ketika bagaimana kamu bilang balung kepadaku, ketika bagaimana kamu sering nyubit dan mukulin aku, ketika bagaimana kamu sering ngledekin aku, ketika bagaimana kamu sering bilang cingcong kepadaku, dan ketika bagaimana kamu membuatku tertawa disetiap waktuku. Kawan, masih inginkah kamu menjadi penanggungjawab mata kuliah Bahasa Inggris 2 ? Ataukah sebenarnya ingin tetap menjadi bendahara? Maafkan aku kawan ketika memang aku ini belum bisa menjadi kawan baikmu, belum bisa menjadi ketua kelas yang bisa mengayomimu serta teman temanmu. Satu hal yang membuatku bahagia ketika kamu berhasil diterima di STAN, satu hal yang juga membuatku tak menginginkan kamu pergi dari pendidikan fisika setelah Tiara Nur Khanifa, Ardianto, Titis ,dan sekarang kamu. Tak sabar ketika nanti kita bisa dipertemukan kembali dalam...

Komentar
Posting Komentar