Langsung ke konten utama

Maafkanlah Cucumu, Nek


Pagi itu seperti biasa aku terbangun dari tidurku. Namun ada hal yang aneh pagi itu, pagi itu terasa tidak seperti pagi pagi yang telah aku lewati sebelumnya. Tubuh ini terasa malas untuk menjalankan rutinitas, jiwa ini pun terasa enggan untuk beranjak dari mimpi malam itu. Entah apa artinya itu, apakah itu sebuah pertanda ataukah sebuah rasa malas yang timbul secara tiba-tiba. Kamis, 17 April 2014 seharusnya adalah menjadi hari bagiku untuk sekedar menengok kampung halaman dan temu kangen sama keluarga, karena memang sebelumnya ada kabar yang tidak enak yang aku dengar dari kampung halaman. Ya, seorang wanita tuwa dengan senyum manisnya kala itu sedang terbaring di rumah sakit. Beliau sudah terbaring di rumah sakit sekitar kurang lebih 10 hari. Namun, menurut sepenuturan orang yang kala itu menjaga beliau di rumah sakit, ada hal yang aneh yang terjadi pada beliau. Beliau yang biasanya dengan ramah menyapa setiap orang yang datang kepadanya, namun kala itu beliau lebih memilih untuk membuang muka daripada hanya sekedar tersenyum kepada setiap orang yang datang menghampirinya. Tak hanya itu, ada hal yang tidak biasa yang memang biasanya tidak dilakukan oleh beliau, ketika dulu beliau lebih memilih memberikan uang kepada para cucunya, namun kala itu beliau lebih memilih memberikan uang yang beliau miliki kepada anak beliau. Wahai Nenek, apa yang sedang terjadi kepadamu nek?
Keinginan dan hasratku untuk pulang pun semakin besar, ingin rasanya ku menengok wanita tuwa tersebut, inginku melihat senyum manis dan cantik wajahnya. Namun, keinginan besarku itupun terhalang oleh banyaknya tanggungan yang harus aku selesaikan di kota perantauan. Ya, aku pun lebih memilih untuk tetap bertahan disini. Hari berganti hari, pagi itu saat ku terbangun dari tidurku karena telepon dari ayah, dan dengan setengah sadar sayapun mengangkat telepon darinya. Dengan suara lirih beliau seperti sedang menahan tangis, dengan suara gemetar beliau seperti tak mampu berkata-kata denganku. Namun, akupun memberanikan diri untuk bertanya kepada beliau," Ayah, apa yang sedang terjadi kepada engkau? Kenapa suaramu tak terdengar seperti biasanya? Adakah hal yang engkau sembunyikan dariku?". Sekali dua kali ku bertannya, tak ada jawaban dari ayahku. Kemudian aku memberanikan diri untuk bertanya kembali kepada ayah," Ayah, apa yang sedang terjadi kepada engkau? Kenapa suaramu tak terdengar seperti biasanya? Adakah hal yang engkau sembunyikan dariku? Keluarga di rumah baik baik saja kan? Nenek sehat kan yah?". Maka, ayahpun menjawab sembari menangis," Nak, apakah engkau sayang dengan nenekmu? apakah seandainya hari ini nenekmu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, engkau akan pulang untuk sekedar bertemu dengan nenekmu?". Seketika itupun aku terdiam dan masih belum memahami apa arti dari kalimat yang terucap dari lisan ayahku. Kemudian, aku bertanya kembali pada ayahku," Ada apa ayah? Nenek baik-baik saja kan di rumah?". Ayahpun menjawab dengan tangisnya," Nak, nenekmu telah tiada, nenekmu telah meninggal dunia, apakah engkau akan pulang untuk melihat nenekmu nak?". Aku pun tediam kembali, tak mampu ku berkata-kata, lisan ini sudah berat untuk berkata menerima kenyataan yang ada. Ketidakyakinan dan ketidakpercayaan pun saat itu ku rasakan. Tanpa berpikir panjang aku memutuskan untuk langsung meninggalkan kota perantauan untuk bertemu dengan nenek di kampung halaman. Tak ada yang aku pikirkan saat itu kecuali aku hanya ingin melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Dan tepat pukul 09.30 akupun sampai di rumah. Kuletakkan semua yang ku bawa pulang saat itu dan ku bergegas menuju tempat pemakaman dan peristirahatan beliau. Sesampainya di pemakaman, ternyata tak sempat ku untuk melihat beliau untuk yang terakhir kalinya, beliau sudah beristirahat di balik papan kayu dan dinding tanah yang mengapitnya. Satu per satu cangkul tanahpun dilemparkan diatas tempat peristirahatan terakhir beliau. Menyadari bahwa aku telah sampai di di tempat pemakaman, ibu langsung mengampiri dan memeluku dengan eratnya seraya berkata," Itu nenekmu nak, istighfarlah nak, doakan yang terbaik untuk beliau, janganlah kau tangisi kepergiannya, beliau sudah bahagia di alam sana". Aku pun tak sanggup menahan air mata ini, tetes demi tetes air mataku berkucuran seakan tidak mempercayai bahwa yang berada di balik dinding tanah adalah nenekku.
Selamat tinggal nenek, Maafkanlah cucumu ini yang tak sempat mendampingimu di sisa akhir hidupmu, maafkalah cucumu ini yang tak bisa meluangkan waktu untuk menjengukmu di kala engkau terbaring lemas di rumah sakit, Maafkanlah cucumu yang tak bisa memberikan sebuah catatan kebanggan dan kebahagiaan di lembaran hidupmu.
Selamat tinggal nenek, doaku selalu menyertaai kepergianmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya dan Wakatobi

Tetiba teringat akan sebuah tempat indah di sebuah pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ya, Kaledupa pulau yang saya maksud. Pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan WaKaToBi merupakan sebuah pulau kecil yang untuk kesana saja memerlukan waktu yang tidak sebentar (bagi saya). WaKaToBi, Wanci Kaledupa Tomia Binongko begitulah kata orang-orang mengapa dinamakan kepulaun WaKaToBi. Di tempat inilah saya pernah menemukan banyak pengalaman dan ilmu yang sampai saat ini masih saya terapkan dalam kehidupan saya. Untuk memulai cerita saya tentang Wakatobi, terlebih dahulu saya harus memulainya dari Green Campus Sebelas Maret Univercity. Bahwa Universitas Sebelas Maret mempunyai salah satu mata kuliah yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana setiap mahasiswanya mulai dari angkatan 2011 wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 45 hari di sebuah tempat yang sudah ditentukan ataupun di sebuah tempat yang sudah di usulkan. Tibalah giliran saya seorang mahasiswa Pendidikan Fisika angkata...

Urung Biasa Nganggo Bahasa Indonesia

Jaman mbiyen, pas umurku sekitar 5 taun pas nyong esih TK , nyong kuwe jerene si bocahe nakal banget, padahal menurutku ya ora patia nakal lah, lumrahe lah ya nek cah cilik njaluke werna werna, di tokokna siji njaluke loro, ditokokna loro, njaluke 3, ditokokna telu njaluke 4, eh malah bareng ditokokna 10 malah ora gelem nampani. Lah wong sing jenengane cah cilik ya maklum lah ya, wis lumrahe. Kie tau nyong pas disengi meng pasar, jenenge pasar karangbolong, nang kono kuwe nyong weruh mobil-mobilan crash gear sing nang tv bisa metu kewane. Hla nyong njaluk malah ora dituruti, mergane dina kuwe nyong wis tuku mobil-mobilan crash gear ana 3. Ya wis lah ya, sing jenengane cah cilik ngertine ya mung nangis, ya wis nyong nagis bae, mbok mbok ditokokna maning kaya sedurung durunge nek nangis. Eh jebule malah ditokokna maning. Sangar mbok? nangis kuwe senjata ampuh. Nah, enteni bae ya crita ciliku mbiyen, kie masalahe ceritane anu to be continued :D

Kawanku, Bahagiamu juga Bahagiaku

Kawanku, ku bangga bisa mengenalmu. Sebuah anugerah kita sempat dipertemukan dalam lingkungan yang sama. Senyummu senyumku senyum kita semua akan selalu terekam dalam memory ingatanku. Ketika bagaimana kamu bilang balung kepadaku, ketika bagaimana kamu sering nyubit dan mukulin aku, ketika bagaimana kamu sering ngledekin aku, ketika bagaimana kamu sering bilang cingcong kepadaku, dan ketika bagaimana kamu membuatku tertawa disetiap waktuku. Kawan, masih inginkah kamu menjadi penanggungjawab mata kuliah Bahasa Inggris 2 ? Ataukah sebenarnya ingin tetap menjadi bendahara? Maafkan aku kawan ketika memang aku ini belum bisa menjadi kawan baikmu, belum bisa menjadi ketua kelas yang bisa mengayomimu serta teman temanmu. Satu hal yang membuatku bahagia ketika kamu berhasil diterima di STAN, satu hal yang juga membuatku tak menginginkan kamu pergi dari pendidikan fisika setelah Tiara Nur Khanifa, Ardianto, Titis ,dan sekarang kamu. Tak sabar ketika nanti kita bisa dipertemukan kembali dalam...