Universitas Sebelas Maret merupakan salah satu dari banyak perguruan tinggi negeri terbaik di Indonesia. Mulai dari jajaran pengurus yang berkompeten dalam bidangnya serta mahasiswa dan mahasiswinya yang mempunyai seagudang prestsi yang membanggakan baik di tingkat regional, nasional bahkan internasional. Kita boleh saja bangga dengan hal yang demikian, akan tetapi disisi lain ada suatu hal yang sangat memperihatinkan ketika tata pengelolaan serta perawatan kampus ini kurang begitu maksimal. Ketika hal yang demikian muncul kedalam benak diri setiap orang, maka timbul sebuah pertanyaan, " Siapakah yang bertanggungjawab atas semua itu? ". Satu hal yang harus kita benahi dari sekarang adalah bukan mencari siapkah yang benar dan juga siapakah yang salah, akan tetapi mencari siapakah yang masih peduli dan hendak tetap menjaga kampus ini. Tak harus melakukan suatu perubahan besar secara sekaligus untuk meperbaiki sarana prasarana serta kualitas kampus ini. Kita bisa memulainya dari hal hal yang sederhana. Sebagai contoh yakni, ketika pihak universitas megambil sebuah kebijakan untuk membangun gedung-gedung secara berkelanjutan, apakah mereka juga mempertimbangkan efek dari pembangunan tersebut dalam jangka panjang dan apakah ketika sementara mereka membangun gedung-gedung tersebut mereka memikirkan perbaikan fasilitas kampus di malam hari, sebagai contoh lampu di pinggir jalan. Banyak saya temukan tiang tiang lampu di kanan kiri sekeliling kampus ini masih berdiri tegak, akan tetapi lampu yang ada sudah tidak bisa diberfungsikan lagi. Ada salah satu fasilitas bagi mahasiswa yang memang seharusnya dapat dikembangkan dan dioptimalkan sebaik mungkin, yakni asrama mahasiswa. Akan tetapi dengan tata pengelolaan serta perawatan yang kurang begitu maksimal, asrama mahasiswa ini terlihat menakutkan bahkan terkesan horor. Sempat saya berbincang dengan salah satu orang yang kebetulan merupakan pengurus musola tersebut yang saat ini sudah pensiun yang ketika saat itu menjadi imam tarawih di musola yang terletak di depan asrama mahasiswa. Beliau mengungkapkan bahwa tak adanya kucuran dana atau anggaran yang diberikan untuk perawatan fasilitas yang ada di sekitar asrama mahasiswa, khususnya untuk perawatan musolalah yang menjadikan musola semakin lama semakin tidak terawat. Untuk kali pertama saya menginjakan kaki di musola tersebut, perasaan haru, sedih, marah, kecewa pun timbul seketika. Hanya ada dua buah lampu yang menerangi semua sudut di musola tersebut. Bambu sebagai penyangga tiangnya agar tidak roboh dan juga debu debu tebal yang menyelimuti kitab kitab suci AL-Qur'an. Maka apakah ini merupakan wujud rasa bersyukur atas apa saja yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT. Jika mereka belum bisa melakukan, maka apa salahnya ketika kita berani mencoba.
Tetiba teringat akan sebuah tempat indah di sebuah pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ya, Kaledupa pulau yang saya maksud. Pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan WaKaToBi merupakan sebuah pulau kecil yang untuk kesana saja memerlukan waktu yang tidak sebentar (bagi saya). WaKaToBi, Wanci Kaledupa Tomia Binongko begitulah kata orang-orang mengapa dinamakan kepulaun WaKaToBi. Di tempat inilah saya pernah menemukan banyak pengalaman dan ilmu yang sampai saat ini masih saya terapkan dalam kehidupan saya. Untuk memulai cerita saya tentang Wakatobi, terlebih dahulu saya harus memulainya dari Green Campus Sebelas Maret Univercity. Bahwa Universitas Sebelas Maret mempunyai salah satu mata kuliah yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana setiap mahasiswanya mulai dari angkatan 2011 wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 45 hari di sebuah tempat yang sudah ditentukan ataupun di sebuah tempat yang sudah di usulkan. Tibalah giliran saya seorang mahasiswa Pendidikan Fisika angkata...
.jpg)
Komentar
Posting Komentar