Langsung ke konten utama

Ketidaktahuan Diri Sendiri

Suatu hari ada seorang anak bernama Usep yang sedang menggembalakan kesepuluh sapinya di suatu pada rumput terbuka. Kesepuluh sapinya merupakan sapi sapi dengan kualitas super sehingga mempunyai bentuk tubuh yang besar serta proporsional. Seharian Usep telah menggembalakan sapi sapina, dan tiba saatnya si Usep untuk kembali menggiring sapi sapinya tersebut kembali ke kandang. Usep menaiki salah satu dari kesepuluh sapi yang dia punyai. Sebelum kembali ke rumah, si Usep terlebih dahulu menghitung jumlah sapi-sapiny. Satu...Dua..Tiga..Empat..Lima..Enam..Tujuh..Delapan..Sembilan...Kemudian si Usep pun kaget dan terheran-heran ketika dia menghitung jumlah sapi-sapinya ternyata hanya ada 9 ekor. Si Usep kembali menghitung sapinya, Satu...Dua..Tiga..Empat..Lima..Enam..Tujuh..Delapan..Sembilan..Ternyata tetap ada 9 ekor sapi yang terhitung olehnya. Lalu kemanakah satu ekor sapi yang lainnya? Usep curiga mungkin seekor sapi miliknya yang satu lagi telah dicuri oleh seseorang. Lalu kemudian datanglah seorang pria paruh baya yang menghampiri Usep yang saat itu terlihat gugup dan kebingungan. Lalu, orang tersebut bertanya kepada Usep, "wahai anak muda, apakah yang mebuatmu terlihat gugup dan kebingungan seperti itu?". Usep pun menjawab," seekor sapi milik saya telah dicuri oleh seseorang, seharusnya ada 10 ekor sapi yang saya gembala tapi ini hanya ada 9 ekor sapi". Lalu orang paruh baya tersebutpun mencoba untuk menghitung jumlah sapi yang ada  Satu...Dua..Tiga..Empat..Lima..Enam..Tujuh..Delapan..Sembilan..sepuluh..."Jumlah sapi mu ada 10 ekor ko, nak" kata orang tersebut. " Mengapa hasil hitunganmu berbeda dengan hitunganku?" kata Usep kepada orang tersebut. Lalu orang tersebut menjawab, " Itu karena sapi yang engkau naiki belum kamu hitung, nak ". Si Usep pun tersipu malu ketika dia tidak menyadari bahwa sapi yang dia naiki belum dia hitung.
Maka dari itu teman-teman, terkadang kita itu memang tida menyadari bahwa diri kitalah yang tidak tahu :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya dan Wakatobi

Tetiba teringat akan sebuah tempat indah di sebuah pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ya, Kaledupa pulau yang saya maksud. Pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan WaKaToBi merupakan sebuah pulau kecil yang untuk kesana saja memerlukan waktu yang tidak sebentar (bagi saya). WaKaToBi, Wanci Kaledupa Tomia Binongko begitulah kata orang-orang mengapa dinamakan kepulaun WaKaToBi. Di tempat inilah saya pernah menemukan banyak pengalaman dan ilmu yang sampai saat ini masih saya terapkan dalam kehidupan saya. Untuk memulai cerita saya tentang Wakatobi, terlebih dahulu saya harus memulainya dari Green Campus Sebelas Maret Univercity. Bahwa Universitas Sebelas Maret mempunyai salah satu mata kuliah yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana setiap mahasiswanya mulai dari angkatan 2011 wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 45 hari di sebuah tempat yang sudah ditentukan ataupun di sebuah tempat yang sudah di usulkan. Tibalah giliran saya seorang mahasiswa Pendidikan Fisika angkata...

Urung Biasa Nganggo Bahasa Indonesia

Jaman mbiyen, pas umurku sekitar 5 taun pas nyong esih TK , nyong kuwe jerene si bocahe nakal banget, padahal menurutku ya ora patia nakal lah, lumrahe lah ya nek cah cilik njaluke werna werna, di tokokna siji njaluke loro, ditokokna loro, njaluke 3, ditokokna telu njaluke 4, eh malah bareng ditokokna 10 malah ora gelem nampani. Lah wong sing jenengane cah cilik ya maklum lah ya, wis lumrahe. Kie tau nyong pas disengi meng pasar, jenenge pasar karangbolong, nang kono kuwe nyong weruh mobil-mobilan crash gear sing nang tv bisa metu kewane. Hla nyong njaluk malah ora dituruti, mergane dina kuwe nyong wis tuku mobil-mobilan crash gear ana 3. Ya wis lah ya, sing jenengane cah cilik ngertine ya mung nangis, ya wis nyong nagis bae, mbok mbok ditokokna maning kaya sedurung durunge nek nangis. Eh jebule malah ditokokna maning. Sangar mbok? nangis kuwe senjata ampuh. Nah, enteni bae ya crita ciliku mbiyen, kie masalahe ceritane anu to be continued :D

Kawanku, Bahagiamu juga Bahagiaku

Kawanku, ku bangga bisa mengenalmu. Sebuah anugerah kita sempat dipertemukan dalam lingkungan yang sama. Senyummu senyumku senyum kita semua akan selalu terekam dalam memory ingatanku. Ketika bagaimana kamu bilang balung kepadaku, ketika bagaimana kamu sering nyubit dan mukulin aku, ketika bagaimana kamu sering ngledekin aku, ketika bagaimana kamu sering bilang cingcong kepadaku, dan ketika bagaimana kamu membuatku tertawa disetiap waktuku. Kawan, masih inginkah kamu menjadi penanggungjawab mata kuliah Bahasa Inggris 2 ? Ataukah sebenarnya ingin tetap menjadi bendahara? Maafkan aku kawan ketika memang aku ini belum bisa menjadi kawan baikmu, belum bisa menjadi ketua kelas yang bisa mengayomimu serta teman temanmu. Satu hal yang membuatku bahagia ketika kamu berhasil diterima di STAN, satu hal yang juga membuatku tak menginginkan kamu pergi dari pendidikan fisika setelah Tiara Nur Khanifa, Ardianto, Titis ,dan sekarang kamu. Tak sabar ketika nanti kita bisa dipertemukan kembali dalam...