Langsung ke konten utama

Beruntunglah Kita yang Tak Seperti Mereka

Indonesia bumi pertiwi yang indah nan asri. Negeri yang dipenuhi sejuta keanekaragaman hayati dan pesona bahari. Tapi mengapa bagi mereka untuk mendapatkan tempat tinggal yang layak saja tak bisa? Apakah Indonesia sudah kehabisan lahan untuk tempat tinggal dengan jumlah penduduk yang semakin lama semakin meningkat jumlahnya. Miris sekali melihat negeri yang penuh dengan sumber daya alamnya tak memiliki lahan sebagai tempat tinggal yang selayaknya. Hal yang seperti inilah yang dialami oleh warga di daerah tipes, Surakarta. Banyak orang yang menyebut mereka adalah masyarakat marginal yakni masyarakat yang kurang mampu dan tak punya harta yang berlimpah. Sebuah pengalaman berharga bagi saya ketika saya dan beberapa rekan saya diberi kesempatan untuk berkujung kesana. Meskipun mereka dikatakan masyarakat marginal, bukan berarti mereka tak mempunyai sopan santun dan tata krama yang baik, justru mereka malah menyambut kami dengan sangat hangat dan ramah serta rendah hati. Mereka menganggap semua orang yang datang kesana adalah tamu terhormat, jadi bagaimanapun mereka harus memperlakukan semua orang yang datang kesana dengan sebaik mungkin. Ada satu hal yang unik di desa ini, mungkin ketika kita mendengar kata kuburan, itu akan terdengar sebagai sesuatu hal yang sangat menyeramkan dan menakutkan. Akan tetapi berbeda halnya dengan mereka, kuburan adalah tempat tinggal mereka, kuburan sudah seperti tempat penyelamat bagi mereka. Apakah ini merupakan salah satu cermin kehidupan di Indonesia saat ini? masyarakat yang heterogen memungkinkan hal yang semacam itu terjadi di Indonesia. Kembali ke keadaan masyarakat di desa Tipes, rumah mereka di bangun di atas tanah kuburan, bahkan tak hanya di atas tanah kuburan, akan tetapi di hantaran sungai pula. Mereka melakukan aktivitas sehari hari seperti selayaknya masyarakat kota biasa. Ketika kalian mendapati sebuah masyarakat yang semacam itu, apakah yang akan kita rasakan? marah? sedih? haru? bahagia? Semua itu akan kita dapatkan ketika kita masih bisa melihat sebuah masyarakat yang masih bisa tertawa riang di atas keterbatasan dan kekurangan mereka. Semoga ini menjadi sebuah cerminan bagi kita bahwasanya masih ada yang kurang beruntung daripada kita dan juga semoga ini menyadarkan kita, sebagai generasi penerus bangsa bahwasanya ini juga merupakan salah satu tugas kita sebagai calon pendidik dan penerus bangsa yang akan melakukan sebuah langkah perbaikan.

HIDUP INDONESIA...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya dan Wakatobi

Tetiba teringat akan sebuah tempat indah di sebuah pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ya, Kaledupa pulau yang saya maksud. Pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan WaKaToBi merupakan sebuah pulau kecil yang untuk kesana saja memerlukan waktu yang tidak sebentar (bagi saya). WaKaToBi, Wanci Kaledupa Tomia Binongko begitulah kata orang-orang mengapa dinamakan kepulaun WaKaToBi. Di tempat inilah saya pernah menemukan banyak pengalaman dan ilmu yang sampai saat ini masih saya terapkan dalam kehidupan saya. Untuk memulai cerita saya tentang Wakatobi, terlebih dahulu saya harus memulainya dari Green Campus Sebelas Maret Univercity. Bahwa Universitas Sebelas Maret mempunyai salah satu mata kuliah yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana setiap mahasiswanya mulai dari angkatan 2011 wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 45 hari di sebuah tempat yang sudah ditentukan ataupun di sebuah tempat yang sudah di usulkan. Tibalah giliran saya seorang mahasiswa Pendidikan Fisika angkata...

Maafkanlah Cucumu, Nek

Pagi itu seperti biasa aku terbangun dari tidurku. Namun ada hal yang aneh pagi itu, pagi itu terasa tidak seperti pagi pagi yang telah aku lewati sebelumnya. Tubuh ini terasa malas untuk menjalankan rutinitas, jiwa ini pun terasa enggan untuk beranjak dari mimpi malam itu. Entah apa artinya itu, apakah itu sebuah pertanda ataukah sebuah rasa malas yang timbul secara tiba-tiba. Kamis, 17 April 2014 seharusnya adalah menjadi hari bagiku untuk sekedar menengok kampung halaman dan temu kangen sama keluarga, karena memang sebelumnya ada kabar yang tidak enak yang aku dengar dari kampung halaman. Ya, seorang wanita tuwa dengan senyum manisnya kala itu sedang terbaring di rumah sakit. Beliau sudah terbaring di rumah sakit sekitar kurang lebih 10 hari. Namun, menurut sepenuturan orang yang kala itu menjaga beliau di rumah sakit, ada hal yang aneh yang terjadi pada beliau. Beliau yang biasanya dengan ramah menyapa setiap orang yang datang kepadanya, namun kala itu beliau lebih memilih untu...

Pendidikan Saat Ini

Pendidikan merupakan permasalahan klasik negeri ini yang sampai saat ini masih belum saja bisa terselesaikan. Anggaran dari pemerintah untuk memajukan pendidikan di negeri ini pun selalu dinantikan dan senantiasa diharapkan oleh putra putri bangsa yang hidup dalam keterbelakangan. Mereka ingin mengenyam dan mendapatkan pendidikan seperti halnya yang dirasakan oleh orang lain yang mampu dengan mudah menyekolahkan anak-anaknya. Kebijakan pemerintahpun dibuat, akan tetapi timbul sebuah pertanyaan, kebijakan yang dibuat tersebut bersumber dari kepentingan pribadi ataukah bersumber pada sebuah kepedulian untuk pendidikan negeri ini. ketika sebuah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah didasarkan pada sebuah kepedulian untuk memperbaiki pendidikan di negeri ini, tentulah saja pendidikan yang berada dalam level memperihatinkan ini akan semakin membaik, tapi lain halnya ketika sebuah kebijakan yang dibuat pemerintah hanya didasarkan pada kepentingan pribadi, pastilah pendidikan di negeri i...