Indonesia, negeriku juga negeri kalian semua. Negeri yang penuh dengan keanekaragaman hayati berserta keunikan yang terdapat di dalamnya. Negeri yang dianugerahi sejuta kekayaan alam yang tersimpan di dalamnya. Oleh karena itu tak sedikit dari negara tetangga yang hendak mengeksploitasi bahkan merebut semua warisan leluhur kita. Akan tetapi disini saya tidak akan membicarakan Indonesia yang penuh dengan kekayaan alam serta keanekaragaman hayatinya, melainkan akan membicarakan sebuah keadaan masyarakat di sebuah negeri yang kaya akan sumber daya alamnya.
Bagi mereka yang berasal dari keluarga yang berada, mungkin tuntutan ekonomi tak menjadi masalah utama. Akan tetapi bagi mereka yang berasal dari keluaraga tak punya, tuntutan ekonomi adalah menjadi permasalahan utama. Banyak dari mereka yang berasal dari keluarga tak berada yang rela mengorbankan sekolahnya hanya untuk membantu orang tua mencari nafkah untuk menopang kehidupan keluarga. Miris memang di negeri yang terkenal terletak di zambrut khatulistiwa yang mempunyai tingkat kesuburan tanah yang sangat baik, untuk mendapatkan sesuap nasi saja harus meminta minta kesana kemari. Dan mungkin inilah yang akan terus terjadi untuk selanjutnya ketika memang tak adanya solusi nyata, tak hanya dari pemerintah saja akan tetapi dari setiap warga negara untuk menekan angka kemiskinan yang ada di Indonesia. Bukan tanggungjawab pemerintah saja sebagai lembaga yang dipercaya untuk mengatasi segala problematika yang muncul saat ini, lebih khususnya ini adalah tanggungjawab kita bersama sebagai putra putri bangsa untuk mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Akan tetapi kenyataan yang saat ini muncul adalah banyak dari mereka yang hanya menyalahkan kinerja pemerintah yang kurang optimal dalam menjalankan sistematika pemerintahan.
Di sisi lain, banyak dari mereka yang berasal dari keluarga tak berada yang masih dapat tertawa dengan riangnya meskipun mereka sedang terhimpit masalah ekonomi keluarga. Dan memang benar, " tak semua anak cukup beruntung. Padahal tawa mereka adalah massa depan kita. Tapi, apa mereka masih bisa tertawa esok? Kitalah yang dapat menjawabnya".

Komentar
Posting Komentar