Langsung ke konten utama

Kenapa Mereka Masih Bisa Tertawa


Indonesia, negeriku juga negeri kalian semua. Negeri yang penuh dengan keanekaragaman hayati berserta keunikan yang terdapat di dalamnya. Negeri yang dianugerahi sejuta kekayaan alam yang tersimpan di dalamnya. Oleh karena itu tak sedikit dari negara tetangga yang hendak mengeksploitasi bahkan merebut semua warisan leluhur kita. Akan tetapi disini saya tidak akan membicarakan Indonesia yang penuh dengan kekayaan alam serta keanekaragaman hayatinya, melainkan akan membicarakan sebuah keadaan masyarakat di sebuah negeri yang kaya akan sumber daya alamnya. 
Bagi mereka yang berasal dari keluarga yang berada, mungkin tuntutan ekonomi tak menjadi masalah utama. Akan tetapi bagi mereka yang berasal dari keluaraga tak punya, tuntutan ekonomi adalah menjadi permasalahan utama. Banyak dari mereka yang berasal dari keluarga tak berada yang rela mengorbankan sekolahnya hanya untuk membantu orang tua mencari nafkah untuk menopang kehidupan keluarga. Miris memang di negeri yang terkenal terletak di zambrut khatulistiwa yang mempunyai tingkat kesuburan tanah yang sangat baik, untuk mendapatkan sesuap nasi saja harus meminta minta kesana kemari. Dan mungkin inilah yang akan terus terjadi untuk selanjutnya ketika memang tak adanya solusi nyata, tak hanya dari pemerintah saja akan tetapi dari setiap warga negara untuk menekan angka kemiskinan yang ada di Indonesia. Bukan tanggungjawab pemerintah saja sebagai lembaga yang dipercaya untuk mengatasi segala problematika yang muncul saat ini, lebih khususnya ini adalah tanggungjawab kita bersama sebagai putra putri bangsa untuk mengharumkan nama Indonesia di mata dunia. Akan tetapi kenyataan yang saat ini muncul adalah banyak dari mereka yang hanya menyalahkan kinerja pemerintah yang kurang optimal dalam menjalankan sistematika pemerintahan. 
Di sisi lain, banyak dari mereka yang berasal dari keluarga tak berada yang masih dapat tertawa dengan riangnya meskipun mereka sedang terhimpit masalah ekonomi keluarga. Dan memang benar, " tak semua anak cukup beruntung. Padahal tawa mereka adalah massa depan kita. Tapi, apa mereka masih bisa tertawa esok? Kitalah yang dapat menjawabnya".

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya dan Wakatobi

Tetiba teringat akan sebuah tempat indah di sebuah pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ya, Kaledupa pulau yang saya maksud. Pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan WaKaToBi merupakan sebuah pulau kecil yang untuk kesana saja memerlukan waktu yang tidak sebentar (bagi saya). WaKaToBi, Wanci Kaledupa Tomia Binongko begitulah kata orang-orang mengapa dinamakan kepulaun WaKaToBi. Di tempat inilah saya pernah menemukan banyak pengalaman dan ilmu yang sampai saat ini masih saya terapkan dalam kehidupan saya. Untuk memulai cerita saya tentang Wakatobi, terlebih dahulu saya harus memulainya dari Green Campus Sebelas Maret Univercity. Bahwa Universitas Sebelas Maret mempunyai salah satu mata kuliah yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana setiap mahasiswanya mulai dari angkatan 2011 wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 45 hari di sebuah tempat yang sudah ditentukan ataupun di sebuah tempat yang sudah di usulkan. Tibalah giliran saya seorang mahasiswa Pendidikan Fisika angkata...

Urung Biasa Nganggo Bahasa Indonesia

Jaman mbiyen, pas umurku sekitar 5 taun pas nyong esih TK , nyong kuwe jerene si bocahe nakal banget, padahal menurutku ya ora patia nakal lah, lumrahe lah ya nek cah cilik njaluke werna werna, di tokokna siji njaluke loro, ditokokna loro, njaluke 3, ditokokna telu njaluke 4, eh malah bareng ditokokna 10 malah ora gelem nampani. Lah wong sing jenengane cah cilik ya maklum lah ya, wis lumrahe. Kie tau nyong pas disengi meng pasar, jenenge pasar karangbolong, nang kono kuwe nyong weruh mobil-mobilan crash gear sing nang tv bisa metu kewane. Hla nyong njaluk malah ora dituruti, mergane dina kuwe nyong wis tuku mobil-mobilan crash gear ana 3. Ya wis lah ya, sing jenengane cah cilik ngertine ya mung nangis, ya wis nyong nagis bae, mbok mbok ditokokna maning kaya sedurung durunge nek nangis. Eh jebule malah ditokokna maning. Sangar mbok? nangis kuwe senjata ampuh. Nah, enteni bae ya crita ciliku mbiyen, kie masalahe ceritane anu to be continued :D

Kawanku, Bahagiamu juga Bahagiaku

Kawanku, ku bangga bisa mengenalmu. Sebuah anugerah kita sempat dipertemukan dalam lingkungan yang sama. Senyummu senyumku senyum kita semua akan selalu terekam dalam memory ingatanku. Ketika bagaimana kamu bilang balung kepadaku, ketika bagaimana kamu sering nyubit dan mukulin aku, ketika bagaimana kamu sering ngledekin aku, ketika bagaimana kamu sering bilang cingcong kepadaku, dan ketika bagaimana kamu membuatku tertawa disetiap waktuku. Kawan, masih inginkah kamu menjadi penanggungjawab mata kuliah Bahasa Inggris 2 ? Ataukah sebenarnya ingin tetap menjadi bendahara? Maafkan aku kawan ketika memang aku ini belum bisa menjadi kawan baikmu, belum bisa menjadi ketua kelas yang bisa mengayomimu serta teman temanmu. Satu hal yang membuatku bahagia ketika kamu berhasil diterima di STAN, satu hal yang juga membuatku tak menginginkan kamu pergi dari pendidikan fisika setelah Tiara Nur Khanifa, Ardianto, Titis ,dan sekarang kamu. Tak sabar ketika nanti kita bisa dipertemukan kembali dalam...