Langsung ke konten utama

Bangsa yang Semakin Menua


Sumpah pemuda bukanlah sembarang sumpah, sumpah yang pernah diikrarkan oleh salah seorang pahlawan nasional. Sebuah sumpah yang membangkitkan semangat setiap pemuda di masa itu. Hal itu wajar saja terjadi mengingat di masa itu kondisi mental dan keberanian dari setiap pemuda sedang berada pada titik tertinggi untuk mencapai sebuah kebebasan dan terlepas dari jajahan setiap bangsa asing. Pemuda disini bukanlah dilihat dari umur yang mereka miliki, karena bagi saya setiap orang yang memang senantiasa menjunjung tinggi bangsa ini, senantiasa memperjuangkan sebuah kemerdekaan dan terlepas dari apapun bentuk penjajahan yang dialami oleh negeri ini, itulah seorang pemuda. Sangat bangga sekali ketika kita mendengar sebuah kisah manis dari sebuah perjuangan bangsa terdahulu untuk merebut kemerdekaan negeri ini. Akan tetapi ketika saat ini, kemerdekaan itu telah kita dapatkan, kemerdekaan itu telah kita genggam, apakah yang kita lakukan? Kita hanya berpanku tangan menikmati sebuah hasil dari buah perjuangan pemuda di masa yang lampau. Kini kita hanya bisa terlena dengan segala kemudahan atas ketercapaian dari sebuah kemerdekaan. Lalu timbul sebuah pertanyaan, dimanakah keberadaan pemuda yang kita bangga banggakah? sudah tidak adakah pemuda yang peduli dengan bangsa ini di masa depan? Katakahlah," Saya adalah pemuda penerus bangsa, tonggak kemajuan suatu bangsa, saya siap mempertahankan kemerdekaan dan kesejahteraan bangsa di mata dunia ". Sebuah kalimat yang dapat dengan mudah terucap dari lisan ini, akan tetapi susah untuk direalisasikan melalui sebuah tindakan yang benar benar menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan. Lalu ketika bangsa ini dikatakan bangsa yang semakin lama semakin menua,apakah itu menjadi sesuatu hal yang tabu dan tak pantas untuk kita sandang setelah era kemerdekaan? Entahlah, bangsa ini susah dimengerti dengan segala pluralismenya. Malulah kita dengan mereka para pendahulu kita, malulah kita kepada mereka para pahlawan yang telah bersusah payah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Mereka tak pernah takut dengan senapan, bom, ataupun mobil tempur yang digunakan oleh para penajajah selama menduduki negeri ini karena mungkin saja yang ada dalam pikiran dan benak mereka pada saat itu adalah bagaimana caranya mereka mengabdi kepada bangsa dan negeri ini, dan dengan itulah salah satu cara mereka untuk mengabdi kepada negeri ini. Dan saat ini sudah menjadi tanggungjawab dan kewajiban kita untuk bagaimana mempertahakan, untuk bagaimana menghargai, untuk bagaimana senantiasa mengabdi pada negeri ini.
Sumpah Pemuda, hargai perbedaan realisasikan persatuan dan kesatuan.
Indonesia Merdeka .

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya dan Wakatobi

Tetiba teringat akan sebuah tempat indah di sebuah pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ya, Kaledupa pulau yang saya maksud. Pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan WaKaToBi merupakan sebuah pulau kecil yang untuk kesana saja memerlukan waktu yang tidak sebentar (bagi saya). WaKaToBi, Wanci Kaledupa Tomia Binongko begitulah kata orang-orang mengapa dinamakan kepulaun WaKaToBi. Di tempat inilah saya pernah menemukan banyak pengalaman dan ilmu yang sampai saat ini masih saya terapkan dalam kehidupan saya. Untuk memulai cerita saya tentang Wakatobi, terlebih dahulu saya harus memulainya dari Green Campus Sebelas Maret Univercity. Bahwa Universitas Sebelas Maret mempunyai salah satu mata kuliah yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana setiap mahasiswanya mulai dari angkatan 2011 wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 45 hari di sebuah tempat yang sudah ditentukan ataupun di sebuah tempat yang sudah di usulkan. Tibalah giliran saya seorang mahasiswa Pendidikan Fisika angkata...

Urung Biasa Nganggo Bahasa Indonesia

Jaman mbiyen, pas umurku sekitar 5 taun pas nyong esih TK , nyong kuwe jerene si bocahe nakal banget, padahal menurutku ya ora patia nakal lah, lumrahe lah ya nek cah cilik njaluke werna werna, di tokokna siji njaluke loro, ditokokna loro, njaluke 3, ditokokna telu njaluke 4, eh malah bareng ditokokna 10 malah ora gelem nampani. Lah wong sing jenengane cah cilik ya maklum lah ya, wis lumrahe. Kie tau nyong pas disengi meng pasar, jenenge pasar karangbolong, nang kono kuwe nyong weruh mobil-mobilan crash gear sing nang tv bisa metu kewane. Hla nyong njaluk malah ora dituruti, mergane dina kuwe nyong wis tuku mobil-mobilan crash gear ana 3. Ya wis lah ya, sing jenengane cah cilik ngertine ya mung nangis, ya wis nyong nagis bae, mbok mbok ditokokna maning kaya sedurung durunge nek nangis. Eh jebule malah ditokokna maning. Sangar mbok? nangis kuwe senjata ampuh. Nah, enteni bae ya crita ciliku mbiyen, kie masalahe ceritane anu to be continued :D

Kawanku, Bahagiamu juga Bahagiaku

Kawanku, ku bangga bisa mengenalmu. Sebuah anugerah kita sempat dipertemukan dalam lingkungan yang sama. Senyummu senyumku senyum kita semua akan selalu terekam dalam memory ingatanku. Ketika bagaimana kamu bilang balung kepadaku, ketika bagaimana kamu sering nyubit dan mukulin aku, ketika bagaimana kamu sering ngledekin aku, ketika bagaimana kamu sering bilang cingcong kepadaku, dan ketika bagaimana kamu membuatku tertawa disetiap waktuku. Kawan, masih inginkah kamu menjadi penanggungjawab mata kuliah Bahasa Inggris 2 ? Ataukah sebenarnya ingin tetap menjadi bendahara? Maafkan aku kawan ketika memang aku ini belum bisa menjadi kawan baikmu, belum bisa menjadi ketua kelas yang bisa mengayomimu serta teman temanmu. Satu hal yang membuatku bahagia ketika kamu berhasil diterima di STAN, satu hal yang juga membuatku tak menginginkan kamu pergi dari pendidikan fisika setelah Tiara Nur Khanifa, Ardianto, Titis ,dan sekarang kamu. Tak sabar ketika nanti kita bisa dipertemukan kembali dalam...