Langsung ke konten utama

Rinduku Kepada Kakakku


Saat ini usiaku sudah menginjak 18 tahun, tapi apa yang sudah saya berikan untuk kedua orang tuaku? ketika mendengar pertanyaan yang semacam itu, yang dapat aku lakukan hanyalah merenung, merenung karena mungkin saja selama ini hanya sebuah beban tanggungan yang mereka dapatkan dariku. Catur namaku, aku terlahir sebagai anak keempat yang terakhir dalam keluargaku. Inginku saat ini bukan menjadi orang hebat dengan segala kekuasaan dan digdayanya, akan tetapi aku ingin bertemu dengan mereka. Mereka kakak kakakku yang hebat, Kak Niswan dan Kak Wage ku menyebutnya. Lucu namanya tapi aku yakin ketika mereka masih diberi kesempatan untuk sedikit menghirup udara yang lebih lama di dunia ini, mereka mampu tumbuh menjadi orang-orang hebat. Anggota DPR, TNI, POLISI, bahkan mungkin menjadi PRESIDEN sekalipun. Ada rasa rindu yang memang menyertai perjalanan hidupku, rindu ingin sekedar melihat dan bertemu bersama mereka, bahkan rindu ketika ingin merasakan hangatnya pelukan mereka. Satu tahun ini, hanya sekali aku mengunjungi tempat tinggal baru mereka. Pohon kecil yang tadinya menjadi sebuah penanda tempat tinggal mereka, kini telah tiada dimakan usia. Lalu apakah itu artinya ketika pohon kecil penanda rumah mereka sudah tiada, merekapun ikut menghilang begitu saja? Saya rasa itu sesuatu hal yang tak mungkin, karena mereka akan tetap setia disana, mereka mengharapkan kedatangan kami untuk berkunjung ke rumah mereka. Akan tetapi lebih dari itu, yang mereka butuhkan hanyalah doa yang senantiasa kami panjatkan untuk menyertai kepergian mereka. Ayah Ibu, sekali lagi ku ingin sampaikan bahwasnya inginku saat ini yakni berjumpa dengan mereka, mereka yang telah memberikan harapan dan pengharapan bagi ayah dan ibu. Setiap saat ku panjatkan doa untuk mereka," Ya Allah, jika memang nanti saya diijinkan hidup lebih lama dan menjadi seorang sarjana, maka hadirkanlah kedua kakakku tercinta Ya Allah di tengah kebahagiaan kami sekeluarga, ku ingin kami berempat bersama kedua orang tua kami berada dalam satu bingkai foto yang nantinya mampu menjadi satu satunya sebuah kenangan keutuhan keluarga kami, ku ingin berada diantara mereka Ya Allah, ku ingin untuk sekali merasakan pelukan dari kedua kakakku tercinta Ya Allah, ku ingin mereka bangga kepadaku ketika nantinya aku telah lulus menjadi seorang sarjana, Ya Allah engakaulah yang Maha Pengasih lagi Maha Mengetahui".
Selamat jalan kakaku tercinta, semoga kita sekeluarga bisa dipertemukan di surga.
amin amin ya rabbal alamin :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya dan Wakatobi

Tetiba teringat akan sebuah tempat indah di sebuah pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ya, Kaledupa pulau yang saya maksud. Pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan WaKaToBi merupakan sebuah pulau kecil yang untuk kesana saja memerlukan waktu yang tidak sebentar (bagi saya). WaKaToBi, Wanci Kaledupa Tomia Binongko begitulah kata orang-orang mengapa dinamakan kepulaun WaKaToBi. Di tempat inilah saya pernah menemukan banyak pengalaman dan ilmu yang sampai saat ini masih saya terapkan dalam kehidupan saya. Untuk memulai cerita saya tentang Wakatobi, terlebih dahulu saya harus memulainya dari Green Campus Sebelas Maret Univercity. Bahwa Universitas Sebelas Maret mempunyai salah satu mata kuliah yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana setiap mahasiswanya mulai dari angkatan 2011 wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 45 hari di sebuah tempat yang sudah ditentukan ataupun di sebuah tempat yang sudah di usulkan. Tibalah giliran saya seorang mahasiswa Pendidikan Fisika angkata...

Urung Biasa Nganggo Bahasa Indonesia

Jaman mbiyen, pas umurku sekitar 5 taun pas nyong esih TK , nyong kuwe jerene si bocahe nakal banget, padahal menurutku ya ora patia nakal lah, lumrahe lah ya nek cah cilik njaluke werna werna, di tokokna siji njaluke loro, ditokokna loro, njaluke 3, ditokokna telu njaluke 4, eh malah bareng ditokokna 10 malah ora gelem nampani. Lah wong sing jenengane cah cilik ya maklum lah ya, wis lumrahe. Kie tau nyong pas disengi meng pasar, jenenge pasar karangbolong, nang kono kuwe nyong weruh mobil-mobilan crash gear sing nang tv bisa metu kewane. Hla nyong njaluk malah ora dituruti, mergane dina kuwe nyong wis tuku mobil-mobilan crash gear ana 3. Ya wis lah ya, sing jenengane cah cilik ngertine ya mung nangis, ya wis nyong nagis bae, mbok mbok ditokokna maning kaya sedurung durunge nek nangis. Eh jebule malah ditokokna maning. Sangar mbok? nangis kuwe senjata ampuh. Nah, enteni bae ya crita ciliku mbiyen, kie masalahe ceritane anu to be continued :D

Kawanku, Bahagiamu juga Bahagiaku

Kawanku, ku bangga bisa mengenalmu. Sebuah anugerah kita sempat dipertemukan dalam lingkungan yang sama. Senyummu senyumku senyum kita semua akan selalu terekam dalam memory ingatanku. Ketika bagaimana kamu bilang balung kepadaku, ketika bagaimana kamu sering nyubit dan mukulin aku, ketika bagaimana kamu sering ngledekin aku, ketika bagaimana kamu sering bilang cingcong kepadaku, dan ketika bagaimana kamu membuatku tertawa disetiap waktuku. Kawan, masih inginkah kamu menjadi penanggungjawab mata kuliah Bahasa Inggris 2 ? Ataukah sebenarnya ingin tetap menjadi bendahara? Maafkan aku kawan ketika memang aku ini belum bisa menjadi kawan baikmu, belum bisa menjadi ketua kelas yang bisa mengayomimu serta teman temanmu. Satu hal yang membuatku bahagia ketika kamu berhasil diterima di STAN, satu hal yang juga membuatku tak menginginkan kamu pergi dari pendidikan fisika setelah Tiara Nur Khanifa, Ardianto, Titis ,dan sekarang kamu. Tak sabar ketika nanti kita bisa dipertemukan kembali dalam...