Langsung ke konten utama

Entah Sebuah Loyalitas ataukah Sebuah Prioritas


Entah apa arti kata loyalitas, entah apa arti kata prioritas, yang jelas keduanya memang saat ini yang tengah saya jalani. Akan tetapi terlepas dari arti kata loyalitas dan prioritas, hal yang memang sangat membingungkan antara mana yang harus dipilih dari keduanya, saya rasa keduanya memang sangat diperlukan dalam diri setiap orang. Loyalitas? Bagaimana kita bisa bekerja secara maksimal ketika kita tidak loyal pada suatu oraganisasi, ketika kita tidak loyal kepada orang lain, dan ketika kita tidak loyal pada pekerjaan dan tanggungjawab yang diberikan kepada kita, akan jadi apa semua hal tersebut ketika kita acuh tak acuh dan tak mau akan hal hal tersebut. Prioritas? Bagaimana kita bisa mengetahui peran diri kita dalam suatu organisasi, dalam suatu kepanitiaan, dalam suatu masyarakat, yang mana pada intinya adalah mana yang harus didahulukan. Dari kedua kata loyalitas dan prioritas timbul beberapa masalah ataupun kebingungan bahkan mungkin ketidaktahuan bagaimana memposisikan diri seseorang bagi orang lain. Lalu timbul sebuah pertanyaan ketika dalam suatu oraganisasi kita lebih dibutuhkan daripada organisasi lainnya, namun kita tidak begitu loyal dengan oraganisasi tersebut? Simple bagiku ketika harus menjawab hal yang semacam itu, saya cuman menjawab nasi menjadi bubur. Nah kenapa saya menjawab seperti itu, kita mungkin lebih suka nasi daripada bubur, begitupun dengan oraganisasi, mungkin kita akan lebih nyaman untuk bekerjasama ketika kita loyal dengan oraganisasi tersebut, akan tetapi lain halnya ketika kita tidak loyal dengan oraganisasi tersebut, kita hanya bekerja semaunya saja. Tapi ketika kita disuruh memilih, apakah kita lebih memilih bubur ataukah memilih nasi, tentu saja kita akan lebih memilih nasi karena lidah kita sudah terbiasa makan nasi, tapi coba ketika untuk sesekali kita memakan bubur, mungkin itu akan menjadi suatu hal yang terasa sangat asing bagi kita karena kita sudah terbiasa dengan nasi. Pun dengan oraganisasi, mungkin kita juga perlu untuk sesekali mengorbankan loyalitas kita untuk sebuah prioritas yang memang menuntut partisipasi dan kerjasama dari kita. Karena dengan begitu kita tidak terpaku pada sebuah loyalitas tanpa mempedulikan prioritas. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya dan Wakatobi

Tetiba teringat akan sebuah tempat indah di sebuah pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ya, Kaledupa pulau yang saya maksud. Pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan WaKaToBi merupakan sebuah pulau kecil yang untuk kesana saja memerlukan waktu yang tidak sebentar (bagi saya). WaKaToBi, Wanci Kaledupa Tomia Binongko begitulah kata orang-orang mengapa dinamakan kepulaun WaKaToBi. Di tempat inilah saya pernah menemukan banyak pengalaman dan ilmu yang sampai saat ini masih saya terapkan dalam kehidupan saya. Untuk memulai cerita saya tentang Wakatobi, terlebih dahulu saya harus memulainya dari Green Campus Sebelas Maret Univercity. Bahwa Universitas Sebelas Maret mempunyai salah satu mata kuliah yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana setiap mahasiswanya mulai dari angkatan 2011 wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 45 hari di sebuah tempat yang sudah ditentukan ataupun di sebuah tempat yang sudah di usulkan. Tibalah giliran saya seorang mahasiswa Pendidikan Fisika angkata...

Urung Biasa Nganggo Bahasa Indonesia

Jaman mbiyen, pas umurku sekitar 5 taun pas nyong esih TK , nyong kuwe jerene si bocahe nakal banget, padahal menurutku ya ora patia nakal lah, lumrahe lah ya nek cah cilik njaluke werna werna, di tokokna siji njaluke loro, ditokokna loro, njaluke 3, ditokokna telu njaluke 4, eh malah bareng ditokokna 10 malah ora gelem nampani. Lah wong sing jenengane cah cilik ya maklum lah ya, wis lumrahe. Kie tau nyong pas disengi meng pasar, jenenge pasar karangbolong, nang kono kuwe nyong weruh mobil-mobilan crash gear sing nang tv bisa metu kewane. Hla nyong njaluk malah ora dituruti, mergane dina kuwe nyong wis tuku mobil-mobilan crash gear ana 3. Ya wis lah ya, sing jenengane cah cilik ngertine ya mung nangis, ya wis nyong nagis bae, mbok mbok ditokokna maning kaya sedurung durunge nek nangis. Eh jebule malah ditokokna maning. Sangar mbok? nangis kuwe senjata ampuh. Nah, enteni bae ya crita ciliku mbiyen, kie masalahe ceritane anu to be continued :D

Kawanku, Bahagiamu juga Bahagiaku

Kawanku, ku bangga bisa mengenalmu. Sebuah anugerah kita sempat dipertemukan dalam lingkungan yang sama. Senyummu senyumku senyum kita semua akan selalu terekam dalam memory ingatanku. Ketika bagaimana kamu bilang balung kepadaku, ketika bagaimana kamu sering nyubit dan mukulin aku, ketika bagaimana kamu sering ngledekin aku, ketika bagaimana kamu sering bilang cingcong kepadaku, dan ketika bagaimana kamu membuatku tertawa disetiap waktuku. Kawan, masih inginkah kamu menjadi penanggungjawab mata kuliah Bahasa Inggris 2 ? Ataukah sebenarnya ingin tetap menjadi bendahara? Maafkan aku kawan ketika memang aku ini belum bisa menjadi kawan baikmu, belum bisa menjadi ketua kelas yang bisa mengayomimu serta teman temanmu. Satu hal yang membuatku bahagia ketika kamu berhasil diterima di STAN, satu hal yang juga membuatku tak menginginkan kamu pergi dari pendidikan fisika setelah Tiara Nur Khanifa, Ardianto, Titis ,dan sekarang kamu. Tak sabar ketika nanti kita bisa dipertemukan kembali dalam...