Siapa sangka ketika seorang anak kampung, anak daerah menjadi seorang mahasiswa pendidikan fisika Universitas Sebelas Maret. Ini adalah ceritaku yang mungkin sama dengan beberapa cerita dari orang lain. Perjalananku untuk bisa menjadi mahasiswa program studi pendidikan fisika Universitas Sebelas Maret bukanlah tanpa sebuah perjuangan. Awal ku mulai ceritaku ini ketika menginjak bangku kelas XII di SMA. Bingung memang ketika harus memilih untuk melanjutkan studi ataukah mengakhiri studi hanya sebatas bangku SMA mengingat kondisi keuangan keluarga yang memang bukanlah seorang PNS ataupun seorang pejabat yang bisa membeli apapun yang dia inginkan dengan uang yang dia miliki. Ayah Ibu tak punya penghasilan tentu, dan ketika itu secara otomatis hanya akulah satu satu harapan mereka. Sedikit peluang terbuka ketika namaku masuk salah satu siswa yang berpeluang untuk menjadi seorang mahasiswa lewat jalur SNMPTN Undangan. Ambisi dan optimisme yang aku miliki ketika itu sungguh sangatlah tinggi mengingat nilai rata rata rapotku yang tidak terlalu jelek bahkan bisa dibilang termasuk salah satu siswa yang memilik nilai rata rata rapot tertinggi di kelas XII. Dan akhirnya ku putuskan ketika itu untuk mencoba mengambil Fisika Teknik UGM dan Geofisika UGM. Beberapa bulan telah berlalu dan tibalah waktunya pengumuman hasil SNMPTN Undangan, dan akupun tidak diterima untuk menjadi salah satu mahasiswa UGM lewat jalur SNMPTN Undangan. Sempat ku berpikir ketika itu untuk tidak melanjutkan usahaku untuk menjadi seorang mahasiwa karena sudah trauma dengan kejadian yang tealh dialami sebelumnya. Dan puncaknya, ketika beberapa hari sebelum pendaftaran SNMPTN Tertulis ditutup, bapak menderita suatu penyakit yang mengharuskannya untuk dirawat di rumah sakit untuk beberapa hari. Badan beliau mulai terlihat kurus, kata kata yang sulit untuk terucap dari lisannya dan pandangannya yang mulai menghilang. Satu hal yang memang aku pikirkan saat itu adalah ketika memang nanti terjadi suatu hal pada bapakku ketika memang nanti keadaan yang mengharuskanku untuk menggantikan bapakku untuk menjadi tulang punngung keluarga, maka aku harus merelakan impianku untuk menjadi seorang mahasiswa. Suatu malam ku tidur disamping beliau, ku pandangi muka beliau, ku belai wajah beliau ketika beliau sedang tertidur dan ku katakan, " Pak, aku ingin menjadi seorang mahasiswa, aku ingin membahagiakan bapak dan ibu, aku ingin merawat bapak dan ibu di usia lanjut bapak dan ibu, tapi ketika memang nanti keadaan mengaruskanku untuk menjadi penggatimu, keadaan mengharuskanku untuk menggantikanmu menjadi tulang punggung keluarga, maka InsyaAlloh aku pun siap !". Pagipun tiba, inginku untuk bolos sekolah demi untuk menemani bapakku hari itu ternyata tak diijinkan oleh bapakku, kata beliau," kamu ngapain mau bolos sekolah, kamu itu harus sekolah, kamu itu harus sekolah yang pinter, jangan seperti bapak yang bodoh yang hanya mengenyam bangku pendidikan Sekolah Dasar, dan bapak pengen kamu itu menjadi orang yang sukses !". Tak sangka perkataan yang seperti itu mampu keluar dari lisan beliau di kala badan beliau yang masih terbaring lemas di rumah sakit. Dan itulah yang membuatku mengetahui bahwasanya ketika saat itu aku berhenti dan merelakan semuanya, itu tak kan menjadi solusi yang tepat, bahkan semisal saat itu aku berhenti, itu adalah hal terkonyol yang pernah aku lakukan.
Dan memang benar, studiku disini tak hanya sebatas impianku saja, akan tetapi ini adalah impian kedua orang tuaku bahkan lebih dari itu, ini adalah impian keluargaku serta bangsa Indonesia yang setia menunggu kader kader ataupun pendidik dan penerus yang akan mencerdaskan bangsa ini.
Dan memang benar, studiku disini tak hanya sebatas impianku saja, akan tetapi ini adalah impian kedua orang tuaku bahkan lebih dari itu, ini adalah impian keluargaku serta bangsa Indonesia yang setia menunggu kader kader ataupun pendidik dan penerus yang akan mencerdaskan bangsa ini.

Komentar
Posting Komentar