Langsung ke konten utama

Mahasiswa yang Hanya Sekedar Nama

Disadari atau tidak, mahasiswa pasca lengsernya Soeharto dari kursi Presiden Indonesia berbeda dengan mahasiswa sebelum Soeharto lengser dari kursi Presiden Indonesia. Berbedanya seperti apa? Berbedanya adalah mahasiswa sebelum lengsernya Soeharto lebih banyak berbicara, lebih banyak mengungkapkan argumen serta aspirasinya diluar urusan akademiknya. Berbeda halnya dengan sekarang mereka tidak banyak omong dan mengejar IP yang tinggi semata.
Terlepas dari ada atau tidaknya penyokong dana dibalik aksi mahasiswa sebelum lengsernya Soeharto, setidaknya mahasiswa di zaman orde baru lebih mempunyai prinsip untuk mengadakan gerakan-gerakan yang tidak hanya gerakan demo semata, akan tetapi juga lobi-lobi pemerintahan. Apakah hal yang semacam itu sekarang masih ada? Apakah hal hal yang demikian masih terpikirkan dan dipedulikan oleh mahasiswa sekarang? Sebagian besar mahasiswa zaman sekarang ( pasca lengsernya Soeharto ) cenderung lebih memilih untuk mempertinggi IPK mereka, lulus tidak sampai 4 tahun , terus kerja di perusahan ternama, syukur syukur bekerja di perusahaan asing yang ada di negeri sendiri, kalau bahasa kasarnya menjadi TKI di negeri sendiri. 
Akan tetapi faktanya, mahasiswa zaman sekarang ( entah itu disengaja ataupun tidak disengaja ) dibuat agar lebih fokus pada bidang akademiknya saja. Mereka seolah olah dibuat seperti kutu buku yang mana pekerjaannya tiap hari cuman berangkat kuliah, masuk kelas, dengerin dosen, tidur di kelas, ngerjain tugas, lobi dosen biar dapet nilai bagus. Kurang lebih memang seperti itu kan? Tapi coba kita lihat, sebagian besar mahasiswa enggan memikirkan kondisi kampusnya, kondisi lingkungannya atau bahkan kondisi negeranya. Meraka malah lebih banyak ngejar target IPK dan lulus cepat daripada menikmati masa masa kuliahnya dengan berbagai kegiatan non akademik. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa mahasiswa zaman sekarang lebih ngejar lulus dibawah 4 tahun, dan kalau menurut saya hal yang demikian bukan salah mahasiswa. Sekali lagi bukan mahasiswa zaman sekarang yang salah.
Kalau menurut saya, memang benar mahasiswa zaman sekarang sengaja dibuat agar mereka tidak respon, baik respon terhadap lingkungannya, terhadap sikap pemerintah pusat dan daerah atau juga terhadap orang orang disekitarnya. Kenapa?
Yang pertama sadar atau tidak sadar, sudah tau atau belum tau, sebenarnya rezim zaman SBY hanya berbeda tipis dengan rezimnya Soeharto. Meskipun zaman sekarang kedoknya adalah negara yang demokrasi, negara yang bebas korupsi, negara dengan kebebasan berpendapat, tapi pada kenyataannya masih banyak yang mainan proyek negara atau dengan kata lain adalah korupsi. Berbeda dengan mahasiswa sekarang, mahasiswa zaman dulu kalau kalau semisal pejabat dan penyelenggara negara ada yang korupsi, meraka langsung sadar dan mendesak yang bersangkutan untuk mundur dari kusri jabatan, yang pada puncaknya terjadi pada tahun 1998.
Kalau zaman sekarang, orang-orang birokrat sudah belajar dari kesalahan Soeharto dulu. Kalau mahasiswa dibiarkan berkeliaran di kampus, diberikan ruang yang bebas untuk berorganisasi atau respek terhadap lingkungannya, yang ada mereka akan sadar bahwa sekarang zaman sudah tidak benar, dalam artian mereka dibuat agar mereka tidak respek terhadap kebijakan pemerintah. Maka dari itu, dibuatlah kurikulum yang lebih ketat dengan membuat target IPK 3 dan lulus dibawah 4 tahun, dan seterusnya.
Yang kedua ,ini berkaitan dengan konspirasi asing, pikir saja 5-10 tahun kedepan, yang nantinya mengurus Indonesia tercinta, mau tidak mau pasti mahasiswa yang kuliah bukan? kalau semisal mahasiswa yang kuliah dibiarkan di kampus, belajar berorganisasi, lalu kemudian mereka sadar bahwa mereka masih diperalat oleh bangsa asing di zaman yang modern ini, mereka pasti akan memberontak. Kalau mahasiswa sadar bahwa apa yang akan terjadi 5-10 tahun kedepan, maka kedudukan bangsa asing pun juga akan terancam. Kenapa? Bayangkan saja, berapa perjanjian ekspor impor yang merugikan Indonesia? Sebagai contoh,Indonesia mempunyai banyak garam, tetapi menteri perdagangan malah mengimpor garam, dan itulah inventasi asing. Selain itu, coba pikir lagi, 5-10 tahun kedepan, minyak dan hutan akan menjadi sesuatu yang langka dan juga penting. Maka dari itulah, bangsa asing di Indonesia mulai mengambil ancang-ancang dari sekarang entah itu melalui perusahaan csr, greenpeace, dan lain sebagainya. Bisa dibayangkan kan kalau semisal mahasiswa menyadari bahwa orang Indonesia hanya dijadikan sebagai pembantu di negeranya, otomatis kedudukan bangsa asing akan terancam. Maka dibuatlah bagaimana caranya supaya mahasiswa lulus dengan kamampuan akademiknya saja, supaya mereka tidak mempunyai jiwa kepemimpinan, lalu puas dengan kedudukan staf perusahaan asing di negaranya sendiri.
Saya menuliskan hal yang demikian karena juga memang status saya sekarang ini masih mahasiswa. Tapi yang terjadi pada zaman sekarang adalah sistem yang membuat para mahasiswa mempunyai ruang yang sempit untuk melakukan aktivitas diluar doktrin akademik. Pada intinya, 24 jam dalam 7 hari, mahasiswa hanya disuruh membaca buku saja.Kemudian saya juga bukan orang yang anti dengan orang asing, tapi coba pikir siapa yang mau jika kekayaan alam yang kita miliki, sedikit demi sedikit mereka rampas dengan cara yang halus hanya demi kepentingan mereka saja.
Akan tetapi ada juga mahasiswa yang mau peduli dengan negeri ini, yang dari sekarang sudah mulai melakukan gerakan gerakan  sosial lewat facebook, twitter, forum, dll. Dan memang untuk di dunia nyata, banyak juga mahasiswa yang membuat gerakan sosial yang intinya ngembangin potensialnya, tapi sayangnya itu baru sebagian kecil. 
Jadi temen-temen, ini bukanlah zaman penjajahan kalsik seperti zaman penjajahan Jepang, Belanda, Inggris yang menjajah Indonesia sebelum 1945. Akan tetapi ini adalah zaman penjajahan model baru yang tidak hanya dilakukan oleh orang asing, bahkan bangsa sendiri pun yang cuman memikirkan bagaimana membuncitkan perut mereka.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya dan Wakatobi

Tetiba teringat akan sebuah tempat indah di sebuah pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ya, Kaledupa pulau yang saya maksud. Pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan WaKaToBi merupakan sebuah pulau kecil yang untuk kesana saja memerlukan waktu yang tidak sebentar (bagi saya). WaKaToBi, Wanci Kaledupa Tomia Binongko begitulah kata orang-orang mengapa dinamakan kepulaun WaKaToBi. Di tempat inilah saya pernah menemukan banyak pengalaman dan ilmu yang sampai saat ini masih saya terapkan dalam kehidupan saya. Untuk memulai cerita saya tentang Wakatobi, terlebih dahulu saya harus memulainya dari Green Campus Sebelas Maret Univercity. Bahwa Universitas Sebelas Maret mempunyai salah satu mata kuliah yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana setiap mahasiswanya mulai dari angkatan 2011 wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 45 hari di sebuah tempat yang sudah ditentukan ataupun di sebuah tempat yang sudah di usulkan. Tibalah giliran saya seorang mahasiswa Pendidikan Fisika angkata...

Maafkanlah Cucumu, Nek

Pagi itu seperti biasa aku terbangun dari tidurku. Namun ada hal yang aneh pagi itu, pagi itu terasa tidak seperti pagi pagi yang telah aku lewati sebelumnya. Tubuh ini terasa malas untuk menjalankan rutinitas, jiwa ini pun terasa enggan untuk beranjak dari mimpi malam itu. Entah apa artinya itu, apakah itu sebuah pertanda ataukah sebuah rasa malas yang timbul secara tiba-tiba. Kamis, 17 April 2014 seharusnya adalah menjadi hari bagiku untuk sekedar menengok kampung halaman dan temu kangen sama keluarga, karena memang sebelumnya ada kabar yang tidak enak yang aku dengar dari kampung halaman. Ya, seorang wanita tuwa dengan senyum manisnya kala itu sedang terbaring di rumah sakit. Beliau sudah terbaring di rumah sakit sekitar kurang lebih 10 hari. Namun, menurut sepenuturan orang yang kala itu menjaga beliau di rumah sakit, ada hal yang aneh yang terjadi pada beliau. Beliau yang biasanya dengan ramah menyapa setiap orang yang datang kepadanya, namun kala itu beliau lebih memilih untu...

Pendidikan Saat Ini

Pendidikan merupakan permasalahan klasik negeri ini yang sampai saat ini masih belum saja bisa terselesaikan. Anggaran dari pemerintah untuk memajukan pendidikan di negeri ini pun selalu dinantikan dan senantiasa diharapkan oleh putra putri bangsa yang hidup dalam keterbelakangan. Mereka ingin mengenyam dan mendapatkan pendidikan seperti halnya yang dirasakan oleh orang lain yang mampu dengan mudah menyekolahkan anak-anaknya. Kebijakan pemerintahpun dibuat, akan tetapi timbul sebuah pertanyaan, kebijakan yang dibuat tersebut bersumber dari kepentingan pribadi ataukah bersumber pada sebuah kepedulian untuk pendidikan negeri ini. ketika sebuah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah didasarkan pada sebuah kepedulian untuk memperbaiki pendidikan di negeri ini, tentulah saja pendidikan yang berada dalam level memperihatinkan ini akan semakin membaik, tapi lain halnya ketika sebuah kebijakan yang dibuat pemerintah hanya didasarkan pada kepentingan pribadi, pastilah pendidikan di negeri i...