Langsung ke konten utama

Bukan 1 atau 2 tapi 3 : Persatuan Indonesia



Negeri ini semakin rapuh, polemik timbul disana sini. Bencana alam yang untuk sementaran ini belum terdengar lagi, mampu menenangkan hati untuk sementara waktu ini. Namun, ketenangan itupun hanya bersifat sesaat ketika kita mendengar berita berita tentang kemerosotan moral yang dialami oleh bangsa ini. Ya, moral bangsa ini semakin merosot, bahkan hampir tidak jauh beda dengan orang yang tak bermoral. Tentu saja masa depan yang gemilang sangat didambakan oleh setiap orang, namun jikalau kita melihat mereka yang dalam tanda kutip tidak mempedulikan pendidikan mereka dengan berbagai macam alasan tentunya idealitas yang semacam itu sangat sulit bahkan hampir tidak mungkin untuk diwujudkan.
Selasa, 22 Juli 2014, semua warga negara Indonesia bahkan dunia akan menjadi saksi sebuah revolusi sistem pemerintahan dalam negeri. Apakah Prabowo-Hatta ataukah Jokowi-JK yang akan menduduki kursi tertinggi dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia, setelah sebelumnya memang sudah dilakukan Pemilihan Umum untuk menentukan siapakah yang nantinya akan menjadi orang nomer satu di Indonesia.
Terlepas dari semua itu, sebagai warga negara yang baik tentunya semua warga negara Indonesia harus dengan lapang dada dan bisa menerima setiap hasil dari Pemilu tersebut. Persatuan dan Kesatuan harus tetap dijunjung tinggi menyusul hasil Pemilu yang akan diumumkan oleh KPU pada tanggaal 22 Juli 2014. " Indonesia Damai, Indonesia Sportif dan Anti Anarkis ". Setidaknya kalimat tersebut yang memang diharapkan mampu memberikan sebuah pandangan bahwa apapun hasilnya nanti, Indonesia tetap satu, tak ada perpecahan yang berbuntut pada perusuhan dan pengerusakan.
Itulah sebabnya mengapa sesekali kita juga harus perlu belajar layaknya seorang anak kecil seperti Nawala. Dia adalah seorang anak kecil berkebutuhan khusus, yang dengan kekurangannya tersebut dia mampu menjadikannya sebuah kelebihan menjadi seorang Hafidz cilik Indonesia. Tepat tanggal 20 Juli 2014, Nawala harus diwisuda dan tersingkir dari sebuah program televisi di sebuah stasiun televisi yang dimana dalam program tersebut terdapat sejumlah anak kecil para penghafal Al-Qur'an. Di waktu ketika Nawala di wisuda, dia terlihat bahagia dan terlihat tidak meneteskan air mata, mengapa? Nawala pun menjawab dia tidak menangis dan meneteskan air mata karena dengan dia di wisuda dia telah menang dan menjadi juara dalam program tersebut. Subhanallah, seorang anak kecil berkebutuhan khusus saja paham dan mengerti arti sebuah sportifitas dalam sebuah perlombaan yang sesungguhnya.
Maka dari itu, Pak Prabowo-Hatta, Pak Jokowi-JK, dan seluruh warga Indonesia entah itu yang mendukung nomer satu ataupun nomer dua, perlu diingat bahwa PEMILU telah lewat, itu berarti saatnya untuk kita kembali saling bahu membahu menjadikan dan mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai negara yang bermartabat dan bermoral baik untuk wilayah sekitar Inonesia ataupun kepada negara lain di seluruh dunia. Sekarang, Tidak PENTING nomer SATU atau nomer DUA, yang terpenting sekarang adalah nomer TIGA yakni PERSATUAN INDONESIA.

#AKU CINTA TANAH AIR INDONESIA DENGAN PERSATUAN DAN KESATUAN NEGARA INDONEISA

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Saya dan Wakatobi

Tetiba teringat akan sebuah tempat indah di sebuah pulau kecil di Provinsi Sulawesi Tenggara. Ya, Kaledupa pulau yang saya maksud. Pulau yang merupakan bagian dari Kepulauan WaKaToBi merupakan sebuah pulau kecil yang untuk kesana saja memerlukan waktu yang tidak sebentar (bagi saya). WaKaToBi, Wanci Kaledupa Tomia Binongko begitulah kata orang-orang mengapa dinamakan kepulaun WaKaToBi. Di tempat inilah saya pernah menemukan banyak pengalaman dan ilmu yang sampai saat ini masih saya terapkan dalam kehidupan saya. Untuk memulai cerita saya tentang Wakatobi, terlebih dahulu saya harus memulainya dari Green Campus Sebelas Maret Univercity. Bahwa Universitas Sebelas Maret mempunyai salah satu mata kuliah yakni Kuliah Kerja Nyata (KKN) dimana setiap mahasiswanya mulai dari angkatan 2011 wajib mengikuti KKN selama kurang lebih 45 hari di sebuah tempat yang sudah ditentukan ataupun di sebuah tempat yang sudah di usulkan. Tibalah giliran saya seorang mahasiswa Pendidikan Fisika angkata...

Maafkanlah Cucumu, Nek

Pagi itu seperti biasa aku terbangun dari tidurku. Namun ada hal yang aneh pagi itu, pagi itu terasa tidak seperti pagi pagi yang telah aku lewati sebelumnya. Tubuh ini terasa malas untuk menjalankan rutinitas, jiwa ini pun terasa enggan untuk beranjak dari mimpi malam itu. Entah apa artinya itu, apakah itu sebuah pertanda ataukah sebuah rasa malas yang timbul secara tiba-tiba. Kamis, 17 April 2014 seharusnya adalah menjadi hari bagiku untuk sekedar menengok kampung halaman dan temu kangen sama keluarga, karena memang sebelumnya ada kabar yang tidak enak yang aku dengar dari kampung halaman. Ya, seorang wanita tuwa dengan senyum manisnya kala itu sedang terbaring di rumah sakit. Beliau sudah terbaring di rumah sakit sekitar kurang lebih 10 hari. Namun, menurut sepenuturan orang yang kala itu menjaga beliau di rumah sakit, ada hal yang aneh yang terjadi pada beliau. Beliau yang biasanya dengan ramah menyapa setiap orang yang datang kepadanya, namun kala itu beliau lebih memilih untu...

Pendidikan Saat Ini

Pendidikan merupakan permasalahan klasik negeri ini yang sampai saat ini masih belum saja bisa terselesaikan. Anggaran dari pemerintah untuk memajukan pendidikan di negeri ini pun selalu dinantikan dan senantiasa diharapkan oleh putra putri bangsa yang hidup dalam keterbelakangan. Mereka ingin mengenyam dan mendapatkan pendidikan seperti halnya yang dirasakan oleh orang lain yang mampu dengan mudah menyekolahkan anak-anaknya. Kebijakan pemerintahpun dibuat, akan tetapi timbul sebuah pertanyaan, kebijakan yang dibuat tersebut bersumber dari kepentingan pribadi ataukah bersumber pada sebuah kepedulian untuk pendidikan negeri ini. ketika sebuah kebijakan yang dibuat oleh pemerintah didasarkan pada sebuah kepedulian untuk memperbaiki pendidikan di negeri ini, tentulah saja pendidikan yang berada dalam level memperihatinkan ini akan semakin membaik, tapi lain halnya ketika sebuah kebijakan yang dibuat pemerintah hanya didasarkan pada kepentingan pribadi, pastilah pendidikan di negeri i...